Wawancara bersama Ahmad Tohari
Posted in: Pendidikan

Wawancara bersama Ahmad Tohari

Wawancara bersama Ahmad Tohari

Wawancara bersama Ahmad Tohari
Wawancara bersama Ahmad Tohari

Wawancara dilaksanakan pada tanggal 16 Februari 2010 dengan narasumber Ahmad Tohari. Wawancara dilakukan di rumah Ahmad Tohari, tepatnya di Desa Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah. Berikut adalah hasil wawancaranya.

1. Mengapa dalam novel-novel Bapak banyak mengandung kritik sosial?
Dari awal, jadi begini. Hal itu berangkat dari komitmen saya untuk memberikan kontribusi bagi terciptanya masyrakat yang bermutu yang tatanan sosialnya itu adil, mapan, dan terciptanya rakyat yang diperhatikan hak-haknya. Mungkin ke latar belakangnya karena saya dilahirkan lalu dibesarkan dari masyarakat kelas bawah hingga hal-hal yang menyangkut nilai-nilai dasar, ketidakadilan, seperti kebersamaan, penghargaan terhadap manusia itu terus terbawa sejak lahir.

2. Apa latar belakang Bapak mengarang novel Orang-orang Proyek (OOP)?
Itu berangkat dari hal-hal yang real atau nyata. Kalau tidak salah peristiwa terjadinya pada Pemilu 1977 atau 1982. Anda tadi lewat satu jembatan, waktu itu sedang dibangun jembatan itu. Lalu ada wakil presiden yang ketua Golkar yang meresmikannya. Jadi sepenuhnya sangat berwarna Golkar dan sangat plat merah. Saya benci betul itu. Demi kampanye Golkar, jembatan itu diselesaikan secara tergesa-gesa, prosesnya juga sangat jelek. Bendahara proyek selalu bendahara Golkar pada masa itu.

3. Penulisan novel Orang-orang Proyek memerlukan waktu berapa tahun atau bulan?
Pengerjaan Orang-orang Proyek itu kurang lebih tiga atau empat tahun.

4. Kalau Ronggeng Dukuh Paruk, berapa?
Lama sekali, bertahun-tahun, mungkin empat tahun.

5. Orang-orang Proyek itu representasi dari apa dan siapa?
Ada. Kalau Orang-orang Proyek adalah representasi ketua partai yang selalu menang, yakni Golongan Lestari Menang (GLM). Itu adalah Harmoko.

6. Kalau tokoh Kabul representasi dari siapa?
Itu karakter yang dibentuk. Jadi lahir dari idealisme saya. Tapi sebetulnya itu atau latar belakangnya adalah anak saya yang ketiga baru di wisuda di UGM. Teknik Sipil UGM pascasarjana (S2). Saya ingin menasihati para insinyur itu. Lha itu sebenarnya saya ingin anak saya seperti Kabul. Jadi, lahir dari idealisme. Figurnya malah tidak ada.

7. Selama pengerjaan Orang-orang Proyek, apakah Bapak melakukan semacam riset atau hanya konstruksi pengalaman Bapak?
Pengalaman yang dikontruksi, kemudian diambil dari rata-rata peristiwa-peristiwa di proyek. Selalu begitu, selalu begitu sampai sekarang. Dan dari proyek apapun. Selalu tidak bermutu. Padahal mereka (insinyur—red) juga sebenarnya tahu apa yang harus mereka lakukan tapi selalu dikhianati. Kamu lihat jalan raya itu (sambil menunjuk jalan—red). Mereka tahu bagaimana membuat jalan yang baik.mengapa dikhianati? Jadi mental proyek itu sebenarnya seperti itu. Bahkan Sidang Umum MPR diproyekkan. Keputusan besar diproyekkan. Mau bikin Undnag-undang diproyekkan, cari ruang-ruangnya. Jadi sebenarnya OOP itu memang kritik saya terhadap pelaksanaan hampir semua proyek di Indonesia. Mental proyek itu adalah mental mencari keuntungan dari suatu kegiatan pembangunan/mencari keuntungan yang tidak benar. Misalnya, seorang pegawai negeri mempimpin proyek. Dia sudah digaji untuk itu, tapi dia pasti akan berlipat ganda penghasilannya kalau berperilaku seperti itu. Itu tadi seluruhnya berdasarkan cita-cita saya untuk memberi kontribusi bagi terciptanya masyarakat yang bermutu, masyarakat sipil yang adil, jujur, dan hukum yang ditegakkan.

8. Apakah OOP adalah representasi dari Orde Baru (Orba)?
Ya.

9. Apakah bapak memandang hari ini masih seperti itu (masih seperti keadaan di Orba—red)?
Bisa lebih parah. Karena dulu kekuasaan sentralistik maka pusat pemerintahan ada di Jakarta, maka berkumpullah di sana. Sekarang tersebar proyek-proyek. Dengan otonomi daerah maka pemerataan korupsi/pusat-pusat korupsi disebar. Dan saya sedih melihat seperti kamu-kamu ini ke depannya. Sampai hari ini belum kelihatan belokan atau pembelokan ke arah yang lebih baik. Ya. Terakhir terdengar ternyata pemerintah tidak punya daya apapun untuk mengatasi kejahatan kapitalisme. Kapitalisme tidak sepenuhnya buruk tapi selalu saja mengorbankan mayoritas masyarakat miskin. Pemerintah sepenuhnya tidak berdaya mengatasi kapitalisme tadi yang sebenarnya menguasai negeri ini. Saya selalu berpikir bagaimana memberi kontribusi untuk kehidupan yang lebih baik dalam masyarakat. Bagaimana ini? Polisi edan, Jaksa gemblung, hakim kenthir, parpol sableng, SBY kalah dengan Anggoro dan Anggodo. SBY bisa ditekuk oleh Cina-cina itu. Keterlaluan!
Soalnya begni, Anda tahu, Cina-cina itu memberi modal sampai ke daerah. Jadi kapitalis daerah juga didominasi pemenang SBY. Ketika mereka menagih janji uangnya maka dia tidak memberikan begitu saja kan Mesti ada kompensasi.
Nah jadi begini, kamu umurnya berapa? (“(22)” jawab pewawancara). Kamu pun mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Jangan meniru generasi saya. Generasi saya itu generasi yang gemblung, kemaruk, manja, sekaligus tolol. Kamu jangan seperti itu. Sambil berjalan, kamu menjadi manusia Indonesia baru. Manusia Indonesia yang wataknya amanah, cukup ilmu, cukup iman, kerja, dan cukup menyadari bahwa hidup ini bersama dan berkelanjutan. Ada saya, ada kamu, anak-anakmu, terus begitu. Dan itu memerlukan kondisi-kondisi tertentu. Kalau terputus garis itu. Habis kita.
Nah karena saya merasa tidak mampu berbuat apa-apa, itu seluruh karya tulis saya itu adalah komitmen untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Intinya adalah membela kaum yang lemah karena mereka yang paling mayoritas. Maka saya membuat agenda kecil. Kalau begitu saya hanya bisa berusaha untuk membuat penghuni rumah ini, yaitu saya, istri, dan anak-anak saya menjadi manusia Indonesia yang berbeda dengan yang lainnya. Saya tidak mau korupsi. Kalau saya mendapatkan sesuatu, itu karena saya telah memberikan sesuatu.

10. Jadi, apakah hal ini menjadi bentuk lain dari khotbah Bapak?
Khotbah formal di masjid malah saya hindari. Khotbah saya ini ya begini. Khotbah Jumat itu. Tidak. Saya menghindari betul dari khotbah-khotbah semacam itu. Tapi saya ingin membangun budi pekerti dan karakter manusia Indonesia. Ya, semua kan orang-orang idealis, seperti Rasus, Tampi, Kabul, semua itu orang-orang idealis. Lahir dari idealisme. Negara kok tidak pakai idealisme, bagaimana ini? Harus idealis. Pragmatis semua. Yang penting untung, dapat gaji, makmur, tapi orang lain terserah. Negara gemblung ya kayak gitu.

11. Menurut Bapak, siapakah tokoh-tokoh yang Bapak anggap idealis?
Kalau di sini, sebetulnya pada awalnya penuh dengan orang idealis seperti Bung karno, Hatta, Sultan Syahrir, Tan Malaka, Abdul Wahid Hasyim. Yang menghancurkan idealisme yaitu Soeharto. Soeharto adalah orang bodoh dan tidak berpendidikan. Dia itu anak SMP. Dia hanya mengerti bagaimana menembak orang dengan bedil. Lalu konsep yang dia miliki tentang kekuasaan adalah kekuasaan Mataram. Dia terapkan persis ketika memerintah. Tiga puluh tahun ia membiarkan negeri ini menumbuhkan budaya korupsi. Sekarang, kamu lihat yang namanya Tomi, Bambang Triatmojo pernah kerja apa? Uangnya trilyunan. Bangsat! Uang siapa? Uang nenek moyang kamu itu. Uang rakyat. Nah kalau Pak Harto begitu, maka semua panglima meniru, ya kan kalau panglima begitu, Kodam begitu, gubernur begitu, Kapolda begitu, sampai ke tingkat masyarakat. Kamu percaya ini, kantor pajak setor ke kantor pajak yang lebih tinggi. Nanti Dirjen pajak setor ke Istana, persis seperti Mataram. Itu pajak. Semua begitu. Bank begitu. Nah jadi ini yang membuat masyoritas masyarakat kecil itu tidak pernah menikmati kemerdekaan karena sebenarnya kita belum pernah merdeka. Kamu kira kamu sudah merdeka. Jadi, kita ketika ingin merdeka, kita mengandaikan bahwa konsep kekuasaan itu berubah dari kekuasaan otoriter kerajaan menjadi kekuasaan daulat rakyat atau demokrasi di mana orang berkeluarga itu karena merasa mendapat mandat dari pemimpin. Tapi ternyata ketika sudah merdeka, dari presiden sampai ketua RT merasa menjadi priayi. Kelihatan kan? Kurang ajar betul. Jadi menikmati kekuasaan sebagai milik pribadi, padahal yang dulu dicita-citakan adalah kekuasaan itu amanat dari rakyat. Jadi yang namanya public servent/pelayan rakyat itu: pegawai, tentara, polisi, bupati, itu melayani masyarakat. Eh ternyata masih seperti masyarakat mereka priayi, kita wong cilik. Ya kurang ajar itu. Buat apa negeri ini jadi republik? Jadi kerajaan Indonesia saja kenapa?

12. Di dalam RDP maupun OOP selalu diceritakan tentang komunis, apa latar belakang dari masalah tersebut?
Ya karena sebetulnya stigma terhadap komunis terlalu berat. Jadi setelah peristiw 65, Soeharto kan benar-benar mencuci habis yang namanya komunisme. Jadi orang-orangnya dibunuhi, kalau tidak dihukum anaknya disingkirkan, cucunya saja sampai buyutnya dilarang untuk menjadi pegawai negeri. Sampai Gus Dur lah itu. Di kampung ini, kalau cucu seorang yang terlibat komunis, pengen jadi perangkat desa, sulit sekali. Gila! Padahal itu kan cucu. Traumanya kan saya itu begini. Tahun 1965 itu saya sudah SMA kelas dua. Jadi ketika terjadi geger itu, terjadi pembakaran rumah-rumah, pembunuhan, saya sudah sangat dewasa, sudah sangat mampu merekam sampai ke dasar hati. Semua orang benar-benar gila itu. Rumah bisa seenaknya dibakar. Dan ramai-ramai itu. Orang yang membakar itu masyarakat, walau memang itu diprovokasi, yang memprovokasi adalah tentara. Jadi, saya bilang ‘nggak bener ini, ini nggak bener’, tapi jiwa saya kan berontak terus dari tahun 1965 sampai RDP ditulis tahun 1980. Sampai lima belas tahun jiwa saya berontak terus. Jadi, sebenarnya begini. Tahun 1966 saya tamat SMA. Kemudian mulai tahun itu saya menunggu adanya atau terbitan apalah yang mengupas kejadian tahun 1965 itu. Bayangkan! Tahun 1965 sampai tahun 1980 tidak ada satu pun novel Indonesia yang berani bicara. Jadi saya pionir dan termasuk gila. Tahun 1980 berani. Berani betul kalau tiba-tiba peluru di kepala? Makanya saya punya strategi Rasus sebagai tentara. Kalau Rasus itu orang sipil atau guru, aduh, tentara bisa marah betul itu. Kapten Mortir yang baik hati yang juga tentara, walaupun yang mencacah-cacah Srintil juga tentara. Itu salah satu cara agar RDP bisa terbit. Itu pun saya terpaksa dipanggil oleh tentara.
Itu, jadi ada repetisi masalah PKI, lagi-lagi adalah komitmen saya terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Lha kalau orang PKI sudah dihukum begitu berat tapi tidak berkesudahan itu kan tidak adil. Yang terlibat PKI itu bapaknya, kenapa sampai anak cucunya dihukum. Itu kan benar-benar tidak adil. Ya banyak cerita-cerita nyata yang membuat saya itu semakin trenyuh. Ada teman, teman lebih muda dari saya, perempuan, cantik. Dia jadi guru. Setelah bapaknya tahun 1965 dinyatakan terlibat, pacarnya meninggalkannya, tidak ingin jadi mantu orang PKI. Karena dia memang cantik, datang lagi pacar yang kedua. Setelah tahu sejarah ayahnya, ditinggal lagi. Yang terakhir malah tentara, ya itu, meninggalkan lagi sampai tiga kali selalu ditinggalkan. Akhirnya, teman saya ini nggembor (menangis). Menangisnya itu mengutuk ayahnya.
Hal-hal semacam itu banyak yang saya alami. Karena saya memang saksi mata dan saksi sejarah. Itu yang kesannya terlalu kuat jadi kadang-kadang tanpa sadar terulang atau terepetisi lagi. Nah, sebelum ini kamu sudah baca Kubah? Pertama malah Kubah. Kubah itu menceritakan tentang orang yang baru pulang dari pulau Buru.

13. Apakah di dalam OOP, tokoh Pak Tarya adalah ejawantah dari Pak Ahmad Tohari?
Ya, banyak yang memikirkan seperti itu. Ya, kadang-kadang saya memang bersembunyi dalam diri satu karakter. Terutama soal mancing. Saya memang hobi mancing. Saya sangat menikmati suasana mancing. Saya itu pemancing sejati. Tidak harus dapat ikan. Dan mancing itu tidak untuk mencari ikan.
Seperti banyak hal, kita semakin akrab dengan alam, kedua, mendapat ketenangan ketika berada di dekat genangan air. Bahkan sampai ke gagang pancing. Walesan. Walesan itu kan lurus tapi lentur, tidak mudah patah. Itu kalau jiwa manusia seperti itu, bagus sekali kan Lurus, jujur, lentur, tidak kaku, tidak putus asa dan tidak wagu karena lentur itu fleksibel.

Sumber : https://nashatakram.net/tinycam-monitor-pro-apk/