Posted in: Pendidikan

Terapi pengganti nikotin (TPR)

Terapi pengganti nikotin (TPR)

Terapi pengganti nikotin (TPR) seperti dengan menggunakan permen karet nikotin atau koyo nikotin transdermal, merupakan terapi farmakologi yang pertama kali disetujui oleh FDA (badan POM-nya Amerika Serikat) untuk pengobatan kecanduan rokok. TPR digunakan bersamaan dengan terapi perilaku untuk menghilangkan gejala putus obat / ketagihan nikotin, TPR terapi ini mampu mengurangi perubahan fisiologis yang ekstrim akibat penghentian rokok secara mendadak, tentunya dengan kadar nikotin yang lebih rendah dari nikotin yang didapat dari rokok. Keuntungan lain menggunakan TPR adalah sediaan ini mempunyai potensi kecanduan yang sangat rendah dikarenakan TPR tidak menyebabkan euforia atau perasaan senang seperti yang diakibatkan oleh rokok, selain itu juga sediaan ini tidak mengandung karsinogen (zat penyebab kanker) dan asap yang disebabkan pembakaran rokok. Sebagai tambahan, hendaknya TPR ini juga diiringi dengan terapi perilaku untuk meningkatkan efektifitas pengobatan jangka panjang.

Sediaan permen karet nikotin pertama kali disetujui oleh FDA pada tahun 1984 dan tersedia di pasar sebagai obat yang dapat diresepkan. Selanjutnya pada tahun 1996 FDA juga kembali menyetujui “nicorette gum” sebagai sedian obat bebas terbatas yang bisa dibeli tanpa resep dokter. Penggunaan permen karet nikotin bukannya tanpa kekurangan, meski pengguna dapat mengontrol kebutuhan dosis dan kemampuan untuk meredakan gejala ketagihan, beberapa pengguna tidak bisa tahan terhadap rasa dan keharusan untuk mengunyah permen karet tersebut untuk mendapatkan efeknya. Untuk itulah pada tahun 1991 dan 1992 FDA juga menyetujui bentuk sediaan lain TPR yaitu Koyo nikotin transdermal, ada 4 merk yang disetujui dimana 2 produk diantaranya pada tahun 1996 menjadi obat bebas terbatas (OTC). Perkembangan sedian TPR ini antara lain pada tahun 1996 muncul sediaan nikotin semprot hidung, dan pada tahun 1998 muncul nikotin inhaler. Yang patut dicatat adalah semua sediaan TPR baik permen karet, koyo, semprot hidung maupun inhaler mempunyai efektifitas yang sama.

2. Strategi pengobatan lainnya

Meski pengobatan kecanduan rokok masih berfokus pada TPN, opsi terapi lain juga tersedia, sebagai contoh penggunaan obat antidepresi bupropion (dengan nama dagang Zyban) pada tahun 1997 telah disetujui FDA membantu terapi berhenti merokok. Obat lainnya yang baru-baru ini telah disetujui FDA untuk terapi berhenti merokok adalah Verenicline tartrate ( dengan nama dagang Chantix) . Obat-obat ini bekerja dengan pada bagian otak yang terkena efek langsung dari nikotin, mengurangi gejala ketagihan dan menghambat efek nikotin apabila pengguna kembali merokok.

Beberapa agen lain yang tidak berbasis pada nikotin-sentris juga sedang dalam penelitian, termasuk beberapa obat antidepresi dan obat antihipertensi. Para peneliti juga sedang melakukan pengujian penggunaan vaksin dengan target antigen nikotin untik mengatasi gejala relaps. Vaksin nikotin di desain untuk menstimulasi produksi antibodi yang mampu menghambat penetrasi nikotin ke otak sehingga mencegah efek reinforcing dari nokotin.

3. Terapi perilaku

Baik dengan strategi menggunakan obat atau tanpa obat, intervensi perilaku sangat memegang peranan penting dalam terapi berhenti merokok, berbagai jenis metode bisa membantu perokok untuk berhenti, mulai dengan menggunakan materi-materi yang bisa dijalani secara mandiri hingga terapi perilaku-kognitif. Intervensi ini mengajarkan perokok untuk mengenali berbagai risiko situasi yang menyebabkan keinginan merokok, mengembangkan strategi pegnendalian diri, mengelola stress, mengingkatkan skill problemsolving, dan meningkatkan suport sosial. Penelitian juga juga memperlihatkan bahwa apabila terapi yang digunakan sesuai dengan situasi yang dihadapi oleh pengguna, semakin besar kemungkinan untuk sukses.

sumber :

https://solopellico3p.com/beli-mobil-bekas/