Teori-teori Motivasi
Posted in: Pendidikan

Teori-teori Motivasi

Teori-teori Motivasi

Teori-teori Motivasi
Teori-teori Motivasi

 

Dalam sumber kepustakaan disebutkan ada beberapa teori tentang motivasi, dintaranya adalah: (1) teori motivasi berdasarkan harapan, (2) teori motivasi berdasarkan kebutuhan, (3) teori motivasi berdasarkan keadilan, dan (4) teori motivasi berdasarkan kepuasan.

1. Teori Motivasi Berdasarkan Harapan

Teori motivasi berdasarkan harapan beranggapan bahwa yang menjadi pendorong utama seseorang untuk dapat lebih giat bekerja karena adanya harapan yang disertai dengan penuh keyakinan, bahwa apa yang diusahakan atau dikerjakan akan berhasil. Ada beberapa variasi model teori, formulasi-formulasi teori yang lebih baru yang menyebut ada tiga konsep esensial yang menentukan, tinggi rendahnya motivasi harapan (expectancy) disingkat E, Valensi (valence) disingkat V, dan peralatan (instrumental) disingkat dengan I (Hoy dan Miskel, 1987).

Harapan merupakan keyakinan bahwa apa yang diusahakan oleh seseorang

akan mengarah pada keberhasilan dalam mencapai tujuan. Harapan merupakan keyakinan subyektif seseorang dalam serangkaian kegiatan tertentu akan didapat suatu hasil atau tujuan positif yang tinggi. Misalnya seorang guru merasa yakin dengan usaha-usahanya sendiri dapat memperbaiki atau meningkatkan kecapakan hidup pada masyarakat yang kurang mampu, maka orang itu mempunyai tingkat harapan tinggi. Jadi tingkat harapan yang tinggi akan menyebabkan adanya motivasi yang tinggi. Valensi merupakan suatu tingkat kemenarikan atau keinginan seorang individu dikaitkan dengan suatu penghargaan. Sebab seseorang diberikan tugas melaksanakan perkejaan, maka untuk itu mereka diberi insentif, seperti, gaji, prestasi, kondisi kerja yang baik, kesempatan untuk maju dan sebagainya. Valenci ditentukan apabila mereka mengindikasikan apa yang mereka inginkan dari suatu pekerjaan. Valensi dikatakan tinggi bila terdapat ketertiban di dalam meningkatkan suatu usaha. Selanjutnya peralatan merupakan korelasi yang diperoleh antara melakukan suatu pekerjaan dengan menerima penghargaan.
Teori motivasi yang berdasarkan harapan dari Vroom ini dikembangkan oleh Porter dan Luwler, kemudian Nadler (Handoko, 2003., Atkinson (1964). Berdasarkan teori motivasi yang sudah ada, Atkinson mengembangkan teori Vroom dengan mengajukan teori motivasi berdasarkan harapan. Teori tersebut mempunyai generalisasi secara umum tingkah laku yang ditentukan oleh suatu relasi multiplikatif bukan aditif diantara harapan-harapan, peralatan-perlatan, dan valensi-valensi seseorang. Hoy dan Miskel (1987) menyatakan perbedaan konseptual yang mendasar dari teori Vroom dan Atkinson adalah bahwa Atkinson hanya memfokuskan pada satu jenis motivasi intrinsik, yaitu prestasi, sedangkan Vroom memfokuskan pada motivasi ektrinsik memandang kekuatan motivation dalam tiga variabel pada persamaan berikut: M = f (M x E x I ), Motivation = f (motive x expectancy x Incentive).
Ada beberapa istilah yang merujuk pada persamaan arti: (a) motive merujuk disposisi secara umum tentang individu yang berusaha untuk memuaskan kebutuhan. Hal ini menunjukan betapa pentingnya kebutuhan untuk dipenuhi, (b) expectancy kebutuhan subjektif tentang kemungkinan pemberian tindakan yang berhasil dalam memuaskan kebutuhan, dan (c) incentive adalah perhitungan subyektif tentang ganjaran yang diharapkan untuk mencapai suatu tujuan.
Menurut Atkinson terdapat tiga faktor motivasi yaitu motif, harapan dan insentif. Model Atkinson ini telah dites dalam sejumlah situasi experimental. Model ini telah diaplikasikan untuk mengukur kebutuhan-kebutuhan prestasi. Istilah-istilah persamaan diekspresi secara positif dan negatif. Motivasi untuk mencapai keberhasilan dan motivasi mengindari kegagalan (Hoy dan Miskel, 1987).

a. Motif

Para ahli psikologi berpendapat bahwa dalam diri individu ada sesuatu yang menentukan prilaku, bekerja dengan cara tertentu untuk mempengaruhi prilaku tersebut. Ada yang menyebut penentu prilaku tersebut dengan istilah kebutuhan atau need, ada yang menyebutnya dengan istilah motif, ada pula yang menggunakan kedua istilah tersebut secara bergantian, misalnya Miskel at. al (1967) dan Mc Clelland (1987) menggunakan istilah motif dan motivasi dalam arti yang sama, dan motif didapat dari hasil belajar. Selanjutnya ia mengatakan bahwa semua motif tentu didasari emosi akan tetapi motif itu sendiri tidak sama dengan emosi, dan bahwa motif merupakan dorongan untuk berubah dalam kondisi yang efektif. motif tidak dapat dilihat begitu saja dari prilaku, karena motif tidak selalu seperti yang tampak, kadang-kadang malahan berlawanan dengan yang tampak. Berdasarkan hal tersebut ia berpendapat bahwa untuk menemukan motif yang mendasari suatu perbuatan, cara yang terbaik ialah dengan menganalisis motif yang ada di dalam fantasi seseorang.
Atkinson (1983) menganggap motif sebagai suatu disposisi laten yang berusaha dengan kuat untuk menuju ke tujuan tertentu, tujuan itu dapat berupa prestasi, afiliasi, ataupun kekuasaaan. Motivasi adalah keadaaan individu yang terangsang yang terjadi jika suatu motif yang telah dihubungkan dengan suatu penghargaan yang sesuai misalnya saja, jika sesuatu perbuatan akan dapat mencapai tujuan motif yang bersangkutan.
Heckhousen (Martiniah. 1984) menyatakan apa yang disebut oleh Atkinson sebagai motif, disebutnya sebagai motivasi potensial, sedangkan yang disebut oleh Atkinson motivasi, dinamakannya dengan motivasi aktual. Lebih lanjut Heckhousen menjelaskan bahwa motivasi potensial adalah suatu keadaan normal yang menentukan bagaimana suatu katagori situasi hidup tertentu supaya dapat memberikan pemuasan. Motivasi aktual terdiri dari penghargaan yang menghubungkan keadaan sekarang dengan keadaan yang akan datang. Heckhousen dalam tulisannya mengatakan bahwa motif merupakan kondisi yang mengandung suatu katagori kejadian tertentu, yang isinya homogen yang terjadinya atau adanya dapat mempengaruhi secara positif atau negatif nilai-nilai atau kepercayaan seseorang. Jadi ia mengganggap motif sebagai disposisi nilai seseorang yang kalau dibentuk secara relatif dapat bertahan, meskipun masih ada kemungkinan untuk dimodifikasi. Adapun proses motivasi adalah interaksi antara motif dengan aspek situasi yang diamati relevan dengan motif yang bersangkutan.
Motif merupakan dorongan yang datang dari dalam diri seorang untuk melakukan sesuatu atau setidak-tidaknya menyebabkan tingkah laku tertentu, motif-motif yang menggerakan tersebut menggambarkan tingkat untuk memenuhi suatu kepentingan. Dorongan untuk melakukan tindakan atau tingkah laku tersebut dapat datang dari luar atau dapat merupakan hasil dari proses pemikiran dari dalam diri seseorang. Sedangkan Thoha (2003) mengartikan motif lebih sederhana yaitu suatu rangkaian yang dapat menyebabkan individu untuk melakukan suatu kegiatan tertentu dan untuk mencapai tujuan tertentu.