Sarana-sarana yang Dapat Digunakan Pengarang Teks untuk Mencapai Tujuan
Posted in: Pendidikan

Sarana-sarana yang Dapat Digunakan Pengarang Teks untuk Mencapai Tujuan

Sarana-sarana yang Dapat Digunakan Pengarang Teks untuk Mencapai Tujuan

Sarana-sarana yang Dapat Digunakan Pengarang Teks untuk Mencapai Tujuan
Sarana-sarana yang Dapat Digunakan Pengarang Teks untuk Mencapai Tujuan
Bagi ilmu sastra, retorika lebih berfaedah daripada ilmu argumentasi. Menurut asal-usulnya, retorika adalah ilmu untuk menyusun suatu uraian yang tepat dan mencapai sasaran, tetapi sekarang tidak demikian karena telah merosot.
Retorika adalah kepandaian mengatakan sesuatu secara baik yang pada awalnya terutama mengacu kepada pengertian kepandaian orator, tetapi ada juga kepandaian dalam teks sastra, yang menampakkan susunan serupa, bagian tersebut mempunyai isi dan fungsinya sendiri, yaitu :

Exordium atau awal

yakni hal yang melukiskan situasi, alasan, atau tujuan teks yang bersangkutan. Dalam exordium ini diterangkan tema teks, dalam teks persuasif misalnya ada janji-janji; dalam teks diskursif dirumuskan sebuah permasalahan, dalam teks drama atau naratif disinggung anekdot secara lansung ataupun tidak langsung. Fungsi Exordium adalah untuk mengikat perhatian pembaca dalam prakteknya tidak perlu langsung dikaitkan dengan tema seluruh karangan atau pidato, sesudah Exordium menyusul narratio.

Narratio

ialah pemaparan fakta, dalam teks informatif, informasi lengkap mengenai fakta, cerita atau lukisan sebetulnya disebut confirmation dan dalam teks diskursif argumentasi lengkap atau pokok disebut argumentatio. Narratio atau pemaparan fakta yang tersedia, atau dalil yang harus dibuktikan sesuai dengan tema. Tujuan pemaparan fakta ialah menjadikan pembaca maklum. Pembaca diberi informasi sehingga ia membuat suatu penilaian. Sebuah teks ilmiah atau intruktif/diskursif seyogyanya menunjukkan bagaimana teks tersusun sehingga pembaca dapat menyesuaikan diri dan dengan mudah dapat mengikuti uraian seterusnya, dalam teks sastra tidak selalu harus dilakukan. Jika informasi terlalu jelas, dampak dapat bersifat negatif karena rasa ingin tahu berkurang. Confirmation atau argumentatio ialah uraian pokok yang mengandung episode-episode atau argumen. Fungsi uraian pokok adalah memenuhi janji yang telah diberikan dalam exordium. Bila ada exordium dijanjikan kisah yang menarik maka hal tersebut harus diceritakan atau disampaikan pada pendengar. Apabila suatu pertanyaan diajukan, jawaban harus diberikan dan apabila suatu pendirian harus dipertahankan, hal itu harus dibuktikan dengan compfirmantio atau argumentatio. Mengenai uraian pokok dalam karya sastra, tidak dapat dikatakan banyak secara umum karena sifat karya sastra yang khas.

Peroratio

 Sesudah narratio/confirmatio/argumentatio, maka penutupnya adalah peroratio. Peroratio ialah pengajuan simpulan mengenai dalil-dalil yang diuraikan, jawaban pertanyaan yang meringkas argumentasi dan melaporkan akhir cerita misalnya menikah dan berbahagia. Kadang-kadang cerita diakhiri secara terbuka, tidak jelas bagaimana pemecahan ini dapat dinilai positif. Atau akhir cerita adalah suatu pertanyaan, dalam hal ini pembaca seperti dirangsang untuk menegaskan pendirian, jawaban yang disarankan oleh pengarang diambil dari pembaca. Hal yang telah diuraikan diatas merupakan proses penulisan bagi setiap pengarang yang berjalan dengan caranya sendiri. Akan tetapi pembedaan tahap dalam retorika zaman dahulu ada gunanya bagi teks terutama teks non sastra, yang mengikuti prinsip-prinsip yang diuraikan di atas. Sedangkan bagi teks sastra:

  • Inventio
  • Dispositio (bahan diatur atau diolah)
  • Elocutio (bahan sudah diatur) dan
  • Actio (bahan dibawakan)

Gaya: Bagaimana Pengarang Menjabarkan Beritanya.

Menurut pendapat umum gaya adalah variasi. Gaya adalah sesuatu yang memberikan ciri khas pada sebuah teks dan yang menjadikan teks itu semacam individu jika dibandingkan dengan teks lain. Hal ini menyatakan bahwa tidak ada norma tetap dan teori ini dapat disebut monistik sekaligus dualistik. Variasi dapat dijumpai dalam ungkapan saja (dualistik) atau dalam keseluruhan ungkapan dan isi (monistik).
Sejumlah variasi dapat digunakan dan ditafsirkan menjadi pola-pola gaya. Pola gaya merupakan transformasi yang dialami sruktur teks. Transformasi itu dapat diterapkan terhadap segala bidang teks dan banyak sekali kemungkinannya. Transformasi itu antara lain:
  1. Penambahan atau pengulangan, bunyi terjadi dalam rima, pengulangan struktur sintaktik disebut paralelisme, pengulangan isi dinamakan redundasi.
  2. Penukaran, yang biasa disebut inversi
  3. Penggantian, metafora dan pola arti lainnya termasuk penggantian isi
  4. Penghapusan, adalah elips, misalnya sebuah peristiwa yang seharusnya terjadi dalam sejarah dilewati dalam cerita.
  5. Empat jenis transformasi di atas dapat dikaitkan dengan sintaksis, semantik, dan bunyi (Luxemburg, 1984:99-106)

Sumber: https://www.pendidik.co.id/