Rukun dan Syarat Waris
Posted in: Pendidikan

Rukun dan Syarat Waris

Rukun dan Syarat Waris

Rukun dan Syarat Waris

  1. Rukun waris

Rukun waris ada tiga yaitu :

  1. Pewaris, yakni orang yang meninggal dunia dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta waris.
  2. Ahli waris, yaitu mereka yang berhak menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabaratan atau ikatan pernikahan.
  3. Harta warisan, yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris, baik berupa uang, tanah, dan sebagianya.
  4. Syarat-syarat waris

Syarat-syarat waris ada tiga yaitu :

  1.   Meninggalnya seseorang (pewaris), baik secara hakiki maupun hukum (misalnya dianggap telah meninggal). Yang dimaksud dengan meninggalnya pewaris, baik secara hakiki atau hukum adalah seseorang telah meninggal dan diketahui oleh seluruh ahli warisnya atau sebagian dari mereka.

Hal ini harus diketahui secara pasti, karena bagaimana pun keadaannya, manusia yang masih hidup tetap dianggap mampu untuk mengendalikan seluruh harta miliknya. Hak kepemilikannya tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun, kecuali setelah meninggal. Matinya pewaris mutlak harus dipenuhi. Seseorang disebut pewaris jika dia telah meninggal dunia. Itu berarti bahwa, jika seseorang memberikan harta kepada para ahli warisnya ketika dia masih hidup, itu bukan waris.

  1. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia. Maksudnya, hak kepemilikan dari pewaris harus dipindahkan kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup, sebab orang yang usdah mati tidak memiliki hak untuk mewarisi. Hidupnya ahli waris  mutlak harus dipenuhi. Seseorag ahli waris hanya akan mewaris jika dia masih hidup ketika pewaris meninggal dunia.

Masalah yang biasanya muncul berkaitan dengan hal ini antara lain mafqud, anak dalam kandungan, dan mati berbarengan.

Otje salman dan musthafah haffas mengatakan bahwa masalah mafqud terjadi dalam hal keberadaan seorang waris tidak diketahui secara pasti apakah masih hidup atau sudah mati ketika pewaris meninggal dunia. Dalam hal terjadi kasus seperti ini, pembagian waris dilakukan dengan cara memandang simafqud tersebut masih hidup. Itu dilakukan untuk menjaga hak  simafqud jika ternyata dia masih hidup. Iika dalam tenggang waktu yang patut ternyata si mafqud  tersebut tidak datang, sehingga dia diduga telah mati, bagiannya tersebut dibagi diantara ahli waris lainnya sesuai dengan perbandingan masing-masing.

Masalah anak dalam kandungan terjadi dalam hal istri pewaris dalam keadaan mengandung ketika pewaris meninggal dunia. Penetapan keberadaan anak tersebut dilakukan saat kelahiran anak tersebut. Oleh sebab itu, pembagian waris dapat ditangguhkan sampai anak tersebut dilahirkan.

Masalah mati berbarengan terjadi apabila dua orang atau lebih yang saling memusakai mati berbarengan, misalnya seorang bapak anaknya tenggelam atau terbakar bersama-sama sehingga tidak diketahui secara pasti siapa yang meninggal terlebih dahulu. Dalam hal terjadi kasus seperti itu, penetapan keberadaan mereka dilakukan dengan memerhatikan kepentingan ahli waris lainnya secara kasus per kasus.

Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa hal penting yang perlu diperhatikan di dalam masalah waris adalah kronologis kematian pewaris dan para ahli waris karena di dalam praktik seringkali pembagian waris dilakukan jauh-jauh hari dari waktu meninggalnya pewaris.

  1. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti, termasuk jumlah bagian masing-masing. Dalam hal ini, posisi para ahli waris hendaklah diketahui secara pasti, misalnya suami, istri, kerabat, dan sebagainya, sehingga pembagi mengetahui dengan pasti jumlah bagian yang harus diberikan kepada masing-masing ahli waris. Sebab, dalam hukum waris, perbedaan jauh-dekatnya kekerabatan akan membedakan jumlah yang diterima, karena tidak cukup hanya mengatakan bahwa seseorang adalah saudara sang pewaris. Akan tetapi, harus dinyatakan apakah ia sebagai saudara kandung, saudara seayah, atau saudara seibu. Mereka masing-masing mempunyai hukum bagian, ada yang berhak mnerima warisan.

Sumber: https://student.blog.dinus.ac.id/handay/seva-mobil-bekas/