Posted in: Pendidikan

 Riwayat Hidup

 Riwayat Hidup

Karl Jaspers lahir pada tanggal 23 Februari 1883 di Oldenburg, Jerman Utara. Dia adalah anak sulung dari Carl Wilhelm Jaspers dan Henriette. Ayahnya seorang ahli hukum dan direktur sebuah bank. Jaspers dididik dalam keluarga Protestan Liberal dan sekolah di Gymnasium di Oldenburg. Sepanjang hidupnya Jaspers menderita penyakit paru-paru bronchiectasis dan penyakit jantung cardiac decompensation. Karena penyakitnya ini Jaspers harus hidup dalam kedisplinan yang sungguh ketat sepanjang hidup sampai ia meninggal pada 26 Februari 1969 di Basel, Switzerland.[4]

Jaspers belajar hukum di Heidelberg dan Műnchen, kemudian meneruskan studi kedokteran di Berlin dan diselesaikannya di Heidelburg pada tahun 1908. Selain masalah kedokteran, Jaspers juga tertarik dengan masalah filosofis. Dia diangkat menjadi guru besar filsafat di Heidelburg pada tahun 1921. Akibat konflik yang terjadi di Jerman, pada tahun 1948 Jaspers dengan isterinya pindah ke Switzerland dan mengajar di Universitas Basel. Di sanalah Jaspers menutup kisah hidupnya dalam usia 86 tahun.[5]

  1. Penerangan Eksistensi

  2. Eksistensi

Karl Jaspers memberikan satu defenisi mengenai filsafat eksistensi yang selalu diaggapnya benar. Menurutnya filsafat eksistensi itu adalah pemikiran manusia yang memanfaatkan semua pengatahuan objektif dan sekaligus juga mengatasi pengetahuan objektif tersebut. Dengan pemikiran itulah manusia mau menjadi dirinya sendiri yang menampakkan bahwa dia adalah mahluk eksistensi.[6]

Seperti dalam kata pengantar di atas sudah dikatakan bahwa ilmu pengetahuan pada abad XX dianggap adalah segala-galanya. Semua kebenaran harus dibuktikan oleh ilmu pengetahuan dengan cara empiris. Dalam ilmu pengetahuan manusia dipandang bukan sebagai pribadi yang unik melainkan objek ilmu pengetahuan. Manusia dijadikan sebagai data atau benda yang sama dengan yang lain. Manusia dianggap sama satu dengan yang lain tanpa ada keunikan diantaranya. Di sinilah Jaspers tidak setuju dengan paham itu dan dia menyatakan pahamnya tentang eksistensi manusia, yakni cara berada manusia yang khas. Cara berada manusia itu harus didekati dengan ilmu filsafat, bukan dengan cara ilmu pengetahuan. Jaspers menemukan keterbatasan dalam ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak mengerti arti dari cara berada manusia, nilai yang ada didalamnya dan tujuan dari manusia itu sendiri. Untuk memahami arti, nilai dan tujuan itu filsafat mendapat tugas untuk mengungkapkannya dan ini tak tergantikan oleh ilmu pengetahuan. Dengan filsafat, eksistensi manusia diterangi kearah eksistensi yang sejati.[7]