REVISI MAKALAH FILSAFAT
Posted in: Pendidikan

REVISI MAKALAH FILSAFAT

REVISI MAKALAH FILSAFAT

REVISI MAKALAH FILSAFAT
REVISI MAKALAH FILSAFAT

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.
Aliran ini berpedirian bahwa filsafat memang harus bertitik tolak pada manusia konkrit, yakni manusia sebagai eksistensi, dan sehubungan dengan titik tolak ini, maka bagi manusia eksistensi itu mendahului esensi.
Pemikiran filsafat ini membedakan antara proses esensi dan eksistensi. Esensi adalah proses menjadikan semua sosok dari segala yang ada mendapatkan bentuknya, contohnya: Pohon mangga menjadi pohon mangga. Tetapi masih belum pasti apakah pohon itu sungguh ada, tampil, dan hadir. Maka disitulah peran eksistensi muncul. Pengertian eksistensi adalah proses menjadikan semua yang ada dan bersosok itu jelas bentuknya dan mampu berada serta eksis, contohnya: Pohon mangga yang tadinya telah melewati proses esensi selanjutnya dapat tertanam, tumbuh, dan berkembang dengan proses eksistensi. Jika obyek contoh di atas adalah manusia, maka manusia merupakan tonggak utama untuk menggerakkan ketentuan dalam keberadaan dan kebebasannya sendiri. Dengan demikian, mereka dapat bertindak dengan kebebasannya itu.
Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-ada-an manusia, dan keber-ada-an itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang selalu berhubungan dengan eksistensialisme adalah soal kebebasan. Apakah kebebasan itu? bagaimanakah manusia yang bebas itu? dan sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi atau ketetapan terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri.
Pada dasarnya, dalam studi sekolahan filsafat eksistensialisme paling dikenal hadir lewat Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan diktumnya “Human Is Condemned To Be Free”, manusia dikutuk untuk bebas, maka dengan kebebasannya itulah kemudian manusia bertindak. Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai derivasi atau asal mula kebebasan eksistensialis adalah sejauh mana kebebasan tersebut bebas? atau “dalam istilah orde baru”, apakah eksistensialisme mengenal “Kebebasan yang bertanggung jawab?” Bagi eksistensialis, ketika kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan dari setiap individu adalah kebebasan individu lain.
Namun, menjadi eksistensialis, bukan harus menjadi seorang yang lain daripada yang lain, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada diluar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya dimasa depan adalah inti dari eksistensialisme.
Kaum eksistensialis menyarankan kita untuk membiarkan apa pun yang akan kita kaji. Baik itu benda, perasaaan, pikiran, atau bahkan eksistensi manusia itu sendiri untuk menampakkan dirinya pada kita. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka diri terhadap pengalaman, dengan menerimanya, walaupun tidak sesuai dengan filsafat, teori, atau keyakinan kita.
Walaupun terdapat beberapa sisi positif dari pemikiran ini tetapi ada pula kelemahan dari pemikiran ini, yaitu:
1. Etika pemikiran ini terperosok ke dalam pendirian yang individualisme,
2. Mengabaikan tata tertib dan peraturan serta hukum,
3. Selalu mengambil sikap dengan dasar kebebasan, dan
4. Amat memperhitungkan situasi tapi mudah goyah.
Dalam ajaran filsafat ini, dapat diambil sebuah ajaran pokok bahwa manusia merupakan tonggak utama untuk menggerakkan ketentuan dalam keberadaannya sendiri. Padahal manusia hanyalah salah satu makhluk yang diciptakan oleh Tuhan. Dengan demikian, maka Tuhanlah yang mempunyai kedudukan sebagai “Penggerak Pertama” atau “Penggerak yang Tak Tergerakkan”, karena segala sesuatu di dunia ini pasti ada yang menciptakan dan tidak mungkin suatu akibat muncul begitu saja tanpa disertai dengan sebab.
Begitu pula dalam kehidupan manusia yang bermasyarakat, pasti didalamnya terdiri dari beberapa nilai dan norma sosial yang harus dilaksanakan untuk mencapai keberlangsungan hidup mereka. Tetapi, ajaran eksistensialisme mengajarkan bahwa manusia tidak wajib dan tidak seharusnya tuduk kepada nilai dan norma dalam masyarakat tersebut karena keberadaannya sebagai makhluk sui generic, yaitu apa adanya.
Dengan demikian, maka Thomas Aquinas dengan tegas menyatakan, “Manusia tidaklah menciptakan nilai dan norma sosialnya sendiri, atau dengan kata lain, manusia tidaklah berada pada “Proses penciptaan yang terus-menerus dan berulang-ulang pada dirinya sendiri”, melainkan sekedar “menemukan” serta kembali “menemukan” secara terus-menerus dan berulang-ulang tanpa henti.

Sumber : https://tribunbatam.co.id/photo-touch-art-pro-apk/