Peduli Gizi Buruk, KKN UGM Difokuskan di Papua
Posted in: Pendidikan

Peduli Gizi Buruk, KKN UGM Difokuskan di Papua

Peduli Gizi Buruk, KKN UGM Difokuskan di Papua

Peduli Gizi Buruk, KKN UGM Difokuskan di Papua
Peduli Gizi Buruk, KKN UGM Difokuskan di Papua

Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta akan mengirimkan mahasiswanya dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) bersama sejumlah tim lainnya ke Kecamatan Agats, Kabupaten Asmat, Papua, mulai akhir Maret nanti.

Pengiriman tersebut sebelumnya telah didahului dengan perintisan oleh tim dari Unit Penanggulan Bencana (DERU) guna melakukan koordinasi dengan stakeholder terkait penanganan gizi buruk.

Sekretaris Direktorat Pengabdian Masyarakat UGM, Rachmawan Budiharto mengatakan pengiriman mahasiswa UGM untuk melaksanakan KKN tersebut direncanakan akan dilakukan sebanyak 3 kelompok atau Klaster. Diutamakan dari kesehatan. Namun tidak menutup kemungkinan akan dilakukan bersama dengan program studi lainnya.

Seperti keterlibatan dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) maupun dari teknik. “(Pemberangkatan) akhir Maret atau awal April, itu memang jadwal reguler,” katanya, dalam jumpa pers Senin (5/2).

Pemberangkatan KKN ke wilayah Agats yang statusnya Kejadian Luar Biasa (KLB)

campak dan kasus gizi buruk tersebut, sekaligus menindaklanjuti misi awal tim Deru yang dipimpinnya pada 23-24 Januari lalu ke sana untuk berkoordinasi dengan masyarakat setempat terkait misi pendampingan terhadap warga sekitar.

Tim Deru yang beranggotakan 7 orang kemarin, imbuhnya bertugas untuk memantau kondisi di lapangan. Melihat seperti apa kehidupan di sana, pemberian logistik berupa obat dan makanan serta pemasangan panel Surya bertenaga 200 Wp.

Dari pengiriman 1 tim awal itu diketahui, di sana tak hanya membutuhkan bantuan

logistik maupun kesehatan saja. Namun memerlukan sentuhan dari berbagai aspek, terutama pendampingan dalam kurun waktu tertentu.

“Di sana butuh teman yang hadir dalam jangka panjang, tidak hanya sekedar diberi bantuan makanan atau obat terus selesai” tuturnya.

Hendro Wartatmo, anggota tim Deru sekaligus dosen di Fakultas Kedokteran UGM

menambahkan, antara kurang gizi dan penyakit campak yang berstatus KLB saling berhubungan. “Kalau kurang gizi kejadian jangka panjang. Mengatasinya tidak hanya seminggu dua minggu saja. Kalau campak itu memang kejadiannya akut,” katanya.

 

Sumber :

https://balad.org/resensi-adalah/