Posted in: Pendidikan

Mura’ah al-mustawayat al-mukhalifah

Mura’ah al-mustawayat al-mukhalifah

Dalam melakukan pengajaran Nabi saw selalu mempertimbangkan kondisi objektif, sikologis dan kecerdasan orang yang bertanya kepadanya. Rasul tidak menyamaratakan seluruh sahabat. Oleh sebab itu, ditemukan pola pengajaran dan jawaban yang beda yang diberikan Rasul saw kepada para sahabat. Rasulullah saw pernah ditanya seorang sahabat tentang amalan yang utama, Nabi menjawab dengan jawaban yang berbeda-beda diantara para penanya. Rasul juga menyesuaikan pertanyaan dengan kecerdasan orang yang bertanya. Nabi pernah ditanya oleh suku Badui, “sesungguhnya istriku melahirkan seorang anak yang berkulit hitam, aku mengingkarinya.” Nabi menjawab, “apakah engkau memiliki unta?” ia menjawan “betul”. Nabi bertanya lagi, “apa warnanya?” ia mengatakan “merah”, Nabi berkata, “apakah diantara unta itu ada warna kelabu?” ia menjawab, “sungguh ada yang kelabu.” Nabi kembali bertanya, “bagaimana hal itu bisa terjadi?” ia menjawab, “kemungkinan disebabkan asal-usulnya” Nabi berkata “anakmu itu kemungkinan mengikuti asal-usul nasabnya.”

  1. Taisir wa ‘adam at-tasydid

Ajaran Nabi saw bertitik tolak pada pengabdian diri kepada Allah dan kemudahan ummat manusia. Oleh sebab itu, hakikat islam adalah pengabdian sekaligus kemaslahatan hidup manusia didunia dan diakirat. Melalui Anas Nabi saw pernah bersabda “permudahlah dan jangan mempersukar.”[3]

 

sumber :
https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/seva-mobil-bekas/