Macam-macam nilai sosial
Posted in: Pendidikan

Macam-macam nilai sosial

Macam-macam nilai sosial

Macam-macam nilai sosial
Macam-macam nilai sosial

Macam-macam nilai sosialKita telah paham tentang pengertian dan ciri-ciri nilai sosial. Berdasarkan pemahaman itu, coba perhatikan masyarakat di sekitarmu! Nilai-nilai apa saja yang dianut masyarakat di daerahmu? Dapatkah kalian mengkategorikannya? Untuk membantu kalian, bacalah uraian berikut!

Prof. Dr. Notonegoro membagi nilai menjadi tiga.
1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsur fisik manusia. Misalnya, makanan, air, dan pakaian. Nilai material relatif lebih mudah diukur dengan alat ukur luas (m2), ukur isi (liter), ukur panjang (meter), dan sebagainya.
2. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan dan aktivitas. Misalnya, buku dan alat tulis bagi pelajar dan mahasiswa, dan kalkulator bagi auditor.
3. Nilai kerohanian, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi batin (rohani) manusia. Nilai kerohanian antara lain sebagai berikut.
a. Nilai kebenaran yang bersumber pada unsur akal manusia.
b. Nilai keindahan yang bersumber pada unsur rasa indah (nilai estetis). Contohnya, karya seni, baik seni musik, lukis, maupun pahat.
c. Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada unsur kodrat manusia seperti kehendak dan kemauan. Contohnya, menolong orang yang ditimpa kemalangan.
d. Nilai religius merupakan nilai ketuhanan yang tertinggi dan mutlak. Nilai ini bersumber pada kepercayaan dan keyakinan manusia.

Berdasarkan cirinya, nilai sosial dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni nilai dominan dan nilai yang mendarah daging.
1. Nilai dominan adalah nilai yang dianggap lebih penting dibandingkan nilai lainnya. Ukuran dominan atau tidaknya suatu nilai didasarkan pada hal-hal berikut.
a. Banyaknya orang yang menganut nilai tersebut. Contoh: Sebagian besar masyarakat menghendaki perubahan ke arah perbaikan (reformasi) di segala bidang kehidupan, seperti bidang politik, hukum, ekonomi, dan sosial.

b. Berapa lama nilai itu dianut atau digunakan.
Contoh:
– Sejak dahulu hingga sekarang, tradisi Sekaten di Surakarta dan Yogyakarta dalam kerangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW selalu dilaksanakan di alun-alun keraton dan di samping masjid besar.
– Keadilan selalu diperjuangkan oleh seluruh masyarakat Indonesia sejak zaman penjajahan hingga saat ini.

c. Tinggi rendahnya usaha orang untuk memberlakukan nilai tersebut.
Contoh:
– Menunaikan ibadah haji merupakan kewajiban bagi umat Islam. Oleh karena itu, umat Islam selalu berusaha untuk dapat melaksanakannya.
– Pulang mudik pada hari Lebaran (Idul Fitri) maupun hari Natal untuk sebagian orang merupakan suatu keharusan walaupun melalui perjuangan yang berat.

d. Prestise/kebanggaan orang-orang yang menggunakan nilai di masyarakat.
Contoh:
Memiliki mobil atau barang lain yang bermerek terkenal dapat memberikan kebanggaan/prestise tersendiri.
– Gelar kesarjanaan seperti S.Si, S.E., S.H., dan sebagainya dilihat sebagai lambang kesuksesan seseorang, walaupun sebenarnya masih ada kesuksesan lain yang dapat dicapai tanpa gelar.

2. Nilai yang mendarah daging (internalized value) adalah nilai yang telah menjadi kepribadian dan kebiasaan sehingga ketika seseorang melakukannya kadang tidak melalui proses berpikir atau pertimbangan lagi, melainkan secara tidak sadar. Biasanya nilai ini telah tersosialisasi sejak seorang masih kecil dan apabila ia tidak melakukannya ia akan merasa malu bahkan dapat merasa bersalah.
Contoh:
– Seorang kepala keluarga yang belum mampu memberi nafkah pada keluarganya akan merasa sebagai kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab.
– Prajurit yang tidak mampu mengalahkan musuhnya dalam suatu pertempuran akan merasa gagal.
– Guru yang melihat siswanya gagal dalam ujian kenaikan kelas akan merasa gagal mendidiknya.

Beberapa ahli juga membagi nilai sosial atas nilai immaterial dan nilai material.

Nilai tidak hanya terkandung dalam sesuatu yang berwujud benda material saja atau yang bersifat konkret, tetapi juga terkandung dalam sesuatu yang tidak berwujud (abstrak). Nilai immaterial atau nilai rohani menggunakan nurani dan juga indera, akal, perasaan, kehendak, dan keyakinan. Nilai immaterial adalah nilai yang sulit untuk berubah. Contohnya, ideologi, gagasan (ide), pemikiran dan sistem politik, dan peraturan-peraturan.

Nilai material atau nilai jasmani adalah nilai yang berwujud, mudah dilihat dan diraba, dan memiliki karakteristik mudah berubah. Contoh nilai material antara lain karya seni, gedung, jembatan, rumah, alat-alat elektronik, dan pakaian.

Dalam pengalaman manusia, nilai material dan immaterial saling berhubungan. Nilai immaterial yang menjadi landasan berpikir dari suatu tindakan akan menghasilkan sesuatu yang konkret (nilai material). Singkat kata, nilai material merupakan perwujudan dari nilai immaterial.

Sumber : https://cialis.id/