Literasi Jalan Terjal Menuju Sertifikasi
Posted in: Pendidikan

Literasi: Jalan Terjal Menuju Sertifikasi

Literasi: Jalan Terjal Menuju Sertifikasi

Literasi Jalan Terjal Menuju Sertifikasi
Literasi Jalan Terjal Menuju Sertifikasi

Sertifikasi merupakan sesuatu yang diidamkan seluruh guru atau dosen, karena

sertifikasi membawa dampak yang baik secara finansial, yaitu guru atau dosen sertifikasi mendapatkan hak berupa sejumlah uang dari pemerintah. Namun, tidak mudah untuk seorang guru atau dosen mendapatkan julukan guru atau dosen sertifikasi. Untuk mendapatkan julukan tersbut, mereka harus melalui beberapa tahapan, dari memiliki nomor induk guru yang dikenal dengan istilah NUPTK atau untuk dosen yang dikenal dengan NIDN. NUPTK dan NIDN pun didapat setelah mengajar beberapa tahun. Selain harus memiliki status guru dengan NUPTK atau dosen dengan NIDN, mereka juga harus mengajukan permohonan sebagai guru atau dosen sertifikasi dengan melampirkan beberapa syarat. Di antara syarat-syarat tersebut adalah menulis atau literasi baik berupa PTK atau Jurnal.

Literasi dalam dunia akademik merupakan keniscayaan. Bagi seorang guru, apalagi dosen, menulis sejatinya bukan suatu hal yang baru, karena para guru atau dosen telah melewati banyak proses literasi berupa karya ilmiah, baik skripsi atau tesis, pada saat menghadapi kelulusan dalam meraih gelar kesarjanaan, baik S-1 ataupun S-2. Dengan demikian, literasi merupakan sesuatu yang selalu mewarnai keseharian seorang guru atau dosen.

Namun, pada kenyataannya literasi menjadi sesuatu yang menakutkan dan sulit

untuk dilakukan. Penyebabnya antara lain: rendahnya minat baca, praktik jual beli KTI, dan menjamurnya plagiarisme. Data UNESCO tahun 2012 menyebutkan, indeks minat baca masyarakat Indonesia sebesar 0,001. Artinya, dari setiap 1000 orang, hanya 1 orang yang membaca. Tingkat melek huruf orang dewasa 65,5 persen. Sementara itu, Malaysia menempati angka 86,5 persen. Dua tahun sebelumnya, 2010, Programme for International Student Assessment (PISA) melansir data kondisi literasi dari 65 negara yang disurvei. Indonesia menempati urutan 64, dengan tingkat membaca siswa bertengger di urutan ke-57 dari 65 negara.

Praktik jual beli karya tulis ilmiah di kalangan akademisi tak dapat dimungkiri

banyak terjadi. Hal ini terjadi karena rendahnya minat baca masyarakat, termasuk di kalangan akademisi yang memiliki mental tak terpuji sehingga timbul pemikiran untuk mencari jalan pintas dengan cara membeli karya seseorang atau dengan menggunakan joki dalam membuat karya ilmiah. Selanjutnya, kehadiran teknologi canggih berupa gawai yang berisi segala hal yang dengan mudah didapat, tidak disikapi dengan arif dan bijaksana, hingga memunculkan pemikiran yang negatif dengan cara plagiarisme.

 

Sumber :

https://ruangseni.com/