Posted in: Pendidikan

Keadaan Hati Nurani dalam Wajah Pendidikan Indonesia

  1. Keadaan Hati Nurani dalam Wajah Pendidikan Indonesia

Dari waktu ke waktu, problematika bangsa ini kian pelik. Masalah kemiskinan, kelaparan, kekerasan, kejahatan harta benda (property crime), perdagangan manusia (trafficking), ambruknya etos para elite politik, kurangnya akses pendidikan, konflik berbau SARA, terus mengungkung negeri ini semakin kuat. Usaha-usaha preventif yang ada selalu saja mentah dan tak berdaya membendung problematika negeri yang datang beruntun.

Sebenarnya kita memiliki banyak orang terpelajar, berotak cerdas dan briliant. Namun semua itu tak bisa mengentaskan problematika kebangsaan yang ada, justru semakin memperparah keadaan. Seperti yang terjadi pada para elite kita, mereka jelas kaum terdidik, berotak cerdas, tapi tak tahu kenapa, mereka paling getol mencuri uang negara (korupsi). Ternyata otak saja tidak cukup! Lalu?

Ada sesuatu yang jauh lebih penting dari pada otak, yakni hati nurani. Otak seringkali dikendalikan oleh hawa nafsu, sehingga menjadi liar. Sementara hati, memiliki suara halus, jujur, dan selalu condong pada kebenaran. Mereka yang korupsi tidak memfungsikan sisi hati nuraninya. Mereka semua pasti tahu, dalam hati yang paling dalam (nurani), bahwa mencuri itu tidak boleh karena akan merugikan rakyat banyak. Tapi bisikan ini mereka abaikan.

Pendidikan kita, yang disebut the human investment (investasi manusia), ternyata, hanya mampu mencetak generasi budak kekuasaan yang tak banyak gunanya. Pendidikan yang katanya akan membuat orang menjadi lebih pandai, arif-bijak, santun, ternyata hanya memunculkan orang-orang yang rakus. Karena ulah mereka, telah banyak rakyat yang miskin, kelaparan, dan banyak pula yang meninggal akibat krisis pangan. Sebuah paradoks pendidikan telah benar-benar bisa di saksikan di negeri kepulauan yang kaya ini.

Bisa ditebak, pendidikan kita hanya sukses membentuk manusia unggul secara intelektual, tapi miskin spiritual. Harus menjadi catatan para pembuat kebijakan, bahwa pendidikan haruslah menempatkan penekanannya pada aspek spiritual, hati nurani. Jangan terlalu memoles otak. Karena dari hati nuranilah jalan kebenaran bisa ditempuh. Pembimbingan hati nurani tak mesti masuk kurikulum, melainkan lewat pembiasaan, arahan, dan keteladanan seorang guru setiap hari.

Hal ini tentu bukan lantas menafikan kecerdasan otak. Kecerdasan otak memang bagus, tapi akan menjadi sangat bagus jika diperkuat dengan kekuatan hati nurani. Dengan demikian, seorang anak didik dilatih untuk peka terhadap segala realitas kehidupan yang mengitarinya; hati-hati dalam bertindak, dan mengambil langkah-langkah solutif demi kepentingan orang banyak.

Dalam hal pendidikan berasis hati nurani, pengalaman negeri ini masih sangat kurang.

 

  1. D.      Hubungan Etika dan Hati Nurani

Hati nurani merupakan suara hati manusia yang paling dalam. Setiap manusia memiliki hatinurani. Dengan adanya hal tersebut maka dapat melandasi setiap tindakan konkrit pada manusia. Hati nurani juga mempengaruhi kesadaran manusia. Kesadaran manusia mampu menilai bagaimana hati nurani berperan di masa lalu dan di masa depan. Bagaimana perlakuan manusia pada masa lampau atau masa depan. Apakah baik ataukah buruk. Dalam sifat diri manusia bisa dibagi menjadi dua yaitu ego dan hati nurani. Hati nurani juga bisa menjadi relfleksi dari kehidupan manusia. Yang dimaksud refleksi disini adalah apakah manusia tersebut memakai hati nuraninya atau tidak. Manusia yang memakai hati nurani dalam kehidupannya akan merasa tentram dan tidak akan ada rasa dikejar-kejar oleh perasaan takut bersalah, tidak bisa, takut mendominasi, atau tidak ingin terlibat dengan kata lain hanya mementingkan diri sendiri. Ego merupakan sikap mementingkan diri sendiri tersebut. Merekahanya menginginkan keuntungan dan kepentingan pribadinya terpenuhi dibandingkan dengankeuntungan dan kepentingan sesama. Mereka terbawa dengan arus ego mereka. Orang yang telah terbawa arus ego mereka akan bertindak karena terpaksa dan merasa dikejar-kejar oleh perasaan takut apabila bekerja untuk kepentingan bersama. Etika mempelajari kita agar dapat bertindak sesuai dengan norma-norma yang dapat diterima oleh masyarakat. Dengan adanya hati nurani akan membuat seseorang bertindak sesuai kaidah atau norma etika.

 

sumber :

https://radiomarconi.com/