Gajah Sumatera Rentan Punah
Posted in: Pendidikan

Gajah Sumatera Rentan Punah

Gajah Sumatera Rentan Punah

Gajah Sumatera Rentan Punah
Gajah Sumatera Rentan Punah

BANDUNG–Merayakan Hari Gajah Sedunia tahun 2016, WWF Indonesia dan Lembaga Biologi Molekular Eijkman, lembaga riset di bawah Kementerian Riset dan Teknologi, memaparkan hasil studi deoxyribonucleic acid (DNA) Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang diambil dari sampel kotoran gajah di beberapa kantong habitat gajah di Sumatera, khususnya Tesso Nilo.

Studi DNA dapat digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk menghitung populasi dan mengetahui kekerabatan satu individu atau kelompok populasi dengan individu atau kelompok lainnya. Tingginya perkawinan sedarah dapat menyebabkan kerentanan satwa terhadap penyakit, terkait dengan variasi genetik yang rendah. Selain untuk studi populasi dan kekerabatan, teknik genetika ini juga dapat digunakan untuk keperluan mitigasi konflik gajah dan manusia, serta forensik dalam penegakan hukum tindak pidana satwa liar.

“Sejak tahun 2012, dengan metode yang dirancang sistematis, kami

mengumpulkan sampel DNA dari kotoran gajah di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo dan sekitarnya. Dari analisis sampel ini, kami berhasil mengindentifikasi 113 individu yang berbeda, dan dapat memperkirakan jumlah minimal populasi Gajah Sumatera di kantong habitat Tesso Nilo pada saat sampel diambil sekitar 154 individu” papar Ekolog Satwa Liar WWF Indonesia Sunarto, dalam rilis yang diterima jabarprov.go.id, Senin (22/8).

Menurut Sunarto, “Selain mengetahui jumlah populasi, studi ini juga mengungkap adanya pergerakan beberapa individu antara beberapa lokasi yang belum diketahui sebelumnya”.

Studi DNA, yang diperkuat dengan studi pergerakan gajah dengan bantuan kalung GPS juga berhasil mengungkap pergerakan kelompok gajah Tesso Nilo yang terfokus di luar Taman Nasional, yakni di kawasan Hutan Tanaman Industri. Hal itu diduga disebabkan oleh tingginya aktivitas manusia, khususnya perambahan, yang terjadi di dalam kawasan Taman Nasional Tesso Nilo.

Saat ini diperlukan strategi perlindungan gajah di luar kawasan lindung. “Jalur

jelajah konvensional gajah saat ini banyak bersinggungan atau bahkan sepenuhnya berada di wilayah hutan tanaman, perkebunan dan bahkan kampung atau kota. Gajah jadi terpaksa makan umbut sawit muda dan kulit kayu akasia. Karena itu peran perkebunan dan pemerintah sangat penting untuk melindungi populasi Gajah Sumatera yang diperkirakan tinggal 1700an ekor di seluruh Sumatera” ucapnya.

Perusahaan perkebunan, ujar Sunarto memiliki tanggung jawab sosial dan

lingkungan untuk kelestarian gajah yang sudah lebih dulu menghuni lahan konsesi tempat perusahaan beroperasi. WWF bersama beberapa perusahaan telah mengembangkan beberapa teknik terkait pengelolaan perkebunan dan hutan tanaman yang lebih baik (Better Management Practices) untuk mendukung perlindungan dan pelestarian satwa terancam punah seperti gajah. (NR)

 

Baca Juga :