Posted in: Pendidikan

Aspek Ajaran Studi Islam

Aspek Ajaran Studi Islam

  1. Aqidah/ Iman

     Islam adalah jalan hidup yang menentukan tingkah laku kaum muslimin dalam kehidupan sehari-hari. Agar kaum muslimin menyadari betapa pentingnya keterikatan dengan hukum syara, cenderung hidup hanya untuk islam dan berjuang untuk menyebarluaskan islam.

     Firman Allah dalam Alquran surat Ali Imran ayat 200, yang berbunyi :

“ Hai orang-orang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu da tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu beruntung “

  1. Syariah/ Islam

     Islam dibangun atas lima dasar, yakni rukun islam. Rukun islam merupakan tiang-tiang penyangga bangunan keislaman seseorang. Di dalamnya terdapat hukum-hukum islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. “ sesungguhnya islam itu dibangun atas lima perkara: bersaksi sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa di bulan ramadhan, dan menunaikan ibadah haji.

      Rukun islam merupakan landasan dari rukun iman. Belum dikatakan beriman seseorang jika hanya dengan mengerjakan rukun islam tanpa ada usaha untuk menegakannya. Rukun islam merupakan pelatihan bagi orang mukmin yang mengharap ridho Allah.

  1. Akhlak / ihsan

    Ihsan dapat diartikan sebagai sebuah ketekunan. Tekun dalam bekerja, baik dalam pergaulan, semuanya adalah cermin akhlak islam. Aplikasi islam dalam dalam kehidupan sehri-hari sangat banyak, seperti ihsan dalam berbicara.

 Allah berfirman dalam surat Al-Isra, yang berbunyi :

“ Dan katakanlah kepada hamba-hambaku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik “.

3.3 Pendekatan Studi Islam

       Istilah “pendekatan” merupakan kata terjemahan dari bahasa inggris, approach. Maksudnya adalah suatu disiplin ilmu untuk dijadikan landsan sebuah studi penelitian yang bertujuan untuk memperoleh hasil dan mencapai tujuan.[7] Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalm studi islam, antara lain : Pendekatan Teologis, Pendekatan Antropologis, Pendekatan Sosiologis, Pendekatan Sosiologis, Penndekatan Filosofis, Pendekatan Historis, Pendekatan Politis, Pendekatan Ekonomis dan lain sebagainya.[8]

A.Pendekatan Teologis

    Pendekatan Teologis merupakan upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka Ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan dari suatu agama dianggap sebagai yang paling benar disbanding dengan yang lainnya.[9]

     Pendekatan teologi dalam pemahaman keagamaan  adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk formal atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing mengklaim dirinya sebagai yang paling benar sedangkan yang lainya salah. Aliran teologi yang satu begitu yakin dan fanatic bahwa pahamnyalah yang benar sedangkan paham lainnya salah, sehingga memandang bahwa paham yang lainnya salah, sehinnga memandang bahwa paham orang lain itu sesat, kafir, murtad.[10]

    Dengan demikian antara satu aliran dan aliran lainnya tidak terbuka atau tidak saling menghargai, yang ada hanyalah ketertutupan, sehingga terjadi adalah suatu pemisahan.

    Saat ini muncul apa yang disebut dengan istilah teologi masa kritis, yaitu suatu usaha manusia memahami penghayatan imannya atau penghayatan agamanya, suatu sumber-sumber aslinya dan tradisinya. Salah satu ciri dari teologi masa kini adalah sifat kritisnya.

   Terlihat bahwa pendekatan teologi dalam memahami agama cenderung bersikap tertutup, tidak ada dialog, saling menyalahkan, saling mengkafirkan, tidak ada kerja sama dan tidak terlihat adanya  kepedulian social. Dengan  pendekatan demikian, maka agama cenderung hanya merupakn keyakinan dan pembentuk sikap keras dan Nampak a social. Melalui pendekatan teologi ini agama menjadi buta terhadap masalah-masalah social dan cenderung menjadi lambang atau identitas yang tidak memiliki makna.[11]

   Dari uraian di atas terlihat bahwa pendekatan teologi dalam memahami agama menggunakan berfikir deduktif , yaitu cara berfikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini benar dan mutlaq adanya, karena ajaran berasal dari tuhan, sudah pasti benar, sehingga tidak perlu dipertanyakan melainkan diperkuat argumennnya.[12]

     Pendekatan teologi memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangannya adalah tidak mau mengakui kekurangan agama lain,sehingga perlu adanya proses sosiologis untuk mengatasinya. Sedangkan kelebihannya adalah melalui pendekatan teologi, seseorang dapat sikap militansi terhadap agama, yakni berpegang teguh terhadap agama yang diyakininya sebagai yang benar, tanpa memandang dan meremehkan agama lainnya. Dengan pendekatan ini seseorang akan mempunyai sikap fanatik terhadap agama yang dianutnya.[13]

sumber :

https://www.disdikbud.lampungprov.go.id/projec2014/seva-mobil-bekas/