ASAP CAIR CANGKANG KELAPA SAWIT SEBAGAI PENGAWET

ASAP CAIR CANGKANG KELAPA SAWIT SEBAGAI PENGAWET

ASAP CAIR CANGKANG KELAPA SAWIT SEBAGAI PENGAWET

ASAP CAIR CANGKANG KELAPA SAWIT SEBAGAI PENGAWET
ASAP CAIR CANGKANG KELAPA SAWIT SEBAGAI PENGAWET

Industri kelapa sawit mulai dirintis di Indonesia

Oleh seorang kebangsaan Belgia yang telah belajar banyak di Afrika yang bernama Addrian Hallet yang mengusahakan perkebunan kelapa sawit di Sungai Liput Aceh Tamiang dan di Pulau Raja (Asahan) pada tahun 1911. Dan ternyata industri kelapa sawit sangat cocok untuk dikembangkan di Indonesia karena memiliki kawasan tropis yang luas yang sesuai dengan kondisi alam yang cocok untuk tanaman kelapa sawit (Naibaho, 1996).

Sawit telah ditanam hampir di seluruh Indonesia

Dan luas arealnya terus meningkat. Pada tahun 2004 luas areal perkebunan sawit adalah 4.580.250 Ha (Kompas, Juni 2007).  Dalam beberapa tahun terakhir bisnis dan investasi pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah terjadi booming. Permintaan atas minyak nabati dan penyediaan untuk biofuel telah mendorong peningkatan permintaan minyak nabati yang bersumber dari Crude Palm Oil (CPO). Hal ini disebabkan tanaman kelapa sawit memiliki potensi menghasilkan minyak sekitar 7 ton/hektar bila dibandingkan dengan kedelai yang hanya 3 ton/ hektar. Indonesia memiliki potensi pengembangan perkebunan kelapa sawit yang sangat besar karena memiliki cadangan lahan yang cukup luas, ketersediaan tenaga kerja, dan kesesuaian agroklimat.

Luas perkebunan kelapa sawit Indonesia pada tahun 2007 sekitar 6,8 juta hektar (Ditjen Perkebunan, 2008 dalam Hariyadi, 2009) yang terdiri dari sekitar 60 % diusahakan oleh perkebunan besar dan sisanya sekitar 40 % diusahakan oleh perkebunan rakyat (Soetrisno, 2008). Luas perkebunan kelapa sawit diprediksi akan meningkat menjadi 10 juta hektar pada 5 tahun mendatang. Mengingat pengembangan kelapa sawit tidak hanya dikembangkan di wilayah Indonesia bagian barat saja, tetapi telah menjangkau wilayah Indonesia bagian timur. Sedangkan perkembangan luas perkebunan kelapa sawit di Propinsi Bengkulu mengalami kemajuan yang sangat pesat dari 36.896 hektar pada tahun 1998 menjadi 93.727 hektar pada tahun 2006.

Jenis dan Potensi Limbah Kelapa Sawit

Limbah yang dihasilkan dalam pengolahan buah sawit berupa: tandan buah kosong, serat buah perasan, lumpur sawit (solid decanter), cangkang sawit, dan bungkil sawit. Cangkang merupakan bagian paling keras pada komponen yang terdapat pada kelapa sawit. Saat ini pemanfaatan cangkang sawit di berbagai industri pengolahan minyak CPO belum begitu maksimal. Ditinjau dari karakteristik bahan baku, jika dibandingkan dengan tempurung kelapa, tempurung kelapa sawit memiliki banyak kemiripan. Perbedaan yang mencolok yaitu pada kadar abu (ash content) yang biasanya mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan oleh tempurung kelapa dan tempurung kelapa sawit.

Jenis, Potensi dan Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit

Jenis

Potensi Per ton (TBS)

Manfaat

Tandan Kosong

Wet Decanter Solid

Cangkang

Serabut (fiber)

Limbah Cair

Air Kondensat

23,0

4,0

6,5

13,0

50,0

Pupuk kompos, pulp kertas,papan partikel, energiPupuk kompos, makanan ternak

Arang, karbon aktif, asap cair, partikel

Energi, pulp kertas, papan partikel

Pupuk, air irigasi

Air umpan broiler

 

Dengan adanya ilmu pengetahuan dan teknologi maka beberapa hasil samping pertanian kelapa serta sawit seperti tempurung, sabut, serta cangkang sawit dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, seperti arang tempurung kelapa yang sangat potensial untuk diolah menjadi arang aktif. Dengan meningkatnya produksi arang aktif yang menggunakan bahan dasar tempurung kelapa maka akan mengakibatkan terjadinya pencemaran udara karena adanya penguraian senyawa-senyawa kimia dari tempurung kelapa pada proses pirolisis.

Pirolisis merupakan proses dekomposisi atau pemecahan bahan baku penghasil asap cair seperti kayu, cangkang sawit, tempurung kelapa dan sebagainya dengan adanya panas. Pirolisis dilakukan dalam suatu reaktor tertutup yang dipanaskan dibawahnya ataupun bahan langsung dibakar di dalamnya. Lama proses pirolisis ini tergantung dari banyaknya bahan baku yang digunakan, kelembaban bahan serta jenis bahan. Proses ini menghasilkan cairan yang berbau menyengat, terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan atas berwarna hitam kecoklatan yang dikatakan sebagai asap cair serta bagian bawah yang berwarna hitam kental yang dikatakan sebagai tar. Selain itu, juga diperoleh residu berupa arang tempurung kelapa dan gas-gas yang tidak dapat terkondensasikan oleh pendingin. Sedangkan gas-gas yang dapat terkondensasikan akan mengembun setelah didinginkan dan menetes menjadi asap cair.

Pengelolaan Limbah Pabrik Kelapa Sawit (PKS)

Menurut Anonymous (2006), konsep zero emissions seyogyanya dapat diterapkan pada industri kelapa sawit, karena konsep ini mempunyai filsafah dasar yang menyatakan bahwa proses industri seharusnya tidak menghasilkan limbah dalam bentuk apapun karena limbah tersebut merupakan bahan baku bagi industri lain. Melalui penerapan konsep ini, proses-proses industri akan menghemat sumber daya alam, memperbanyak ragam produk, menciptakan lebih banyak lapangan kerja serta mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Dari sudut pandang lingkungan, konsep eliminasi limbah Zero Emissions merupakan solusi akhir dari permasalahan pencemaran yang mengancam ekosistem baik dalam skala lokal maupun dalam skala global. Selain itu, penggunaan maksimal bahan mentah yang dipakai dan sumber-sumber yang terbaharui (renewable) menghasilkan keberlanjutan (sustainable) penggunaan sumber daya alam dan penghematan (efisiensi) terutama bagi limbah yang masih mempunyai nilai ekonomi.

Aplikasi Zero Emissions pada industri kelapa sawit berarti meningkatkan daya saing dan efisiensi karena sumberdaya digunakan secara maksimal yaitu memproduksi lebih banyak dengan bahan baku yang lebih sedikit, oleh sebab itu Zero Emissions dapat dipandang sebagai suatu standar efisiensi. Kegiatan kebun dan pabrik pengolahan kelapa sawit merupakan kegiatan yang sangat memungkinkan penerapan konsep Zero Emissions, dimana hampir semua limbah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali mulai dari pelepah sampai limbah cair.

Penggunaan bahan baku secara maksimal berarti penciptaan industri

Baru dan lapangan kerja sejalan dengan meningkatnya produktivitas, dan mendukung usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengurangi kemampuan produksi sumber daya alam bagi generasi dimasa depan. Secara garis besar, penerapan konsep Zero Emissions ini akan menyebabkan perubahan pola industrialisasi menjadi :

  1. Lebih peduli lingkungan (eko product); dengan mengefisienkan penggunaan bahan baku dan memaksimalkan nilai gunanya, secara otomatis, emisi gas, limbah padat dan cair ke lingkungan akan berkurang.
  2. Terciptanya lapangan kerja baru; melalui proses siklus, limbah suatu proses menjadi input bagi proses lainnya dan seterusnya. Sehingga akan terjadi ekspansi dan diversifikasi industri, dimana dampaknya adalah munculnya kebutuhan tenaga dan terciptanya lapangan kerja baru.
  3. Keuntungan perusahaan meningkat; pergeseran paradigma dan share-holders menjadi stake-holders mengakibatkan suatu produk akan dikonsumsi jika memenuhi norma yang dipakai oleh konsumen. Penerapan konsep Zero Emissions akan meningkatkan daya saing produk tersebut, karena konsumen hijau akan memilih memakai produk-produk ramah lingkungan.

Konsep Zero Emissions, yang hakekatnya sejalan dan merupakan kelanjutan pelaksanaan program Produksi Bersih yang merupakan bukti pengejawantahan pembangunan berwawasan lingkungan.  Produksi Bersih adalah suatu strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif dan terpadu yang perlu diterapkan secara terus menerus pada proses produksi dan daur hidup produksi dengan tujuan untuk mengurangi resiko terhadap manusia dan lingkungan.

Produksi Bersih diperlukan sebagai cara untuk mengharmonisasikan upaya perlindungan lingkungan dengan kegiatan pembangunan atau pertumbuhan ekonomi, karena Produksi Bersih dapat:

  1. Memberikan peluang keuntungan ekonomi, sebab di dalam Produksi Bersih terdapat strategi pencegahan pencemaran pada sumbernya (source reduction dan in process recycling) yaitu mencegah terbentuknya limbah secara dini, yang dapat mengurangi biaya terbentuknya limbah secara dini, yang dapat mengurangi biaya investasi untuk pengolahan dan pembuangan limbah atau upaya perbaikan lingkungan.
  2. Mencegah terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan melalui pengurangan limbah, daur ulang, pengolahan dan pembuangan yang aman.
  3. Memelihara dan memperkuat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang melalui penerapan proses produksi dan penggunaan bahan baku dan energi yang lebih efisien (konservasi sumberdaya, bahan baku dan energi).
  4. Mendukung prinisp “environmental equity” dalam rangka pembangunan berkelanjutan dimana kita harus memelihara lingkungan agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
  5. Mencegah atau memperlambat terjadinya degradasi lingkungan dan memanfaatkan sumberdaya alam meelaui penerapan daur ulang limbah di dalam proses, yang pada akhirnya menuju upaya konservasi sumberdaya untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
  6. Memelihara ekosistem lingkungan
  7. Memperkuat daya saing produk di pasar internasional.

Strategi Produksi Bersih mempunyai arti yang sangat luas karena didalamnya termasuk upaya pencegahan, minimasasi limbah, analisis daur hidup, dan teknologi bersih. Dengan adanya perkembangan dan perubahan cara pandang dalam pengelolaan limbah, konsep Produksi Bersih menjadi pilihan kebijaksanaan pemerintahan untuk mewujudkan pembangunan yang berwawasan lingkungan. Untuk mengaplikasikan konsep Produksi Bersih, strategi pencegahan pencemaran perlu diprioritaskan dalam upaya mewujudkan industri berwawasan lingkungan, tetapi bukanlah merupakan satu-satunya strategi yang harus diterapkan. Strategi lain seperti program daur ulang, pengolahan dan pembuangan limbah tetap diperlukan sehingga dapat saling melengkapi satu dengan lainnya.

Pengasapan Tradisional

Pengasapan (smoking) telah lama dikenal dalam pengolahan pangan. Ditinjau dari segi produk hasil pengasapan, penggunaan berbagai jenis kayu yang ada di sekitar tempat pengasapan telah menghasilkan produk yang cukup baik dan dapat diterima konsumen. Namun pada pengawetan dengan pengasapan sering mengalami kontaminasi zat yang bersifat karsinogenik. Disamping itu, kondisi tempat penghasil asap dan pengolah bahan yang akan diasap sangat mempengaruhi nilai nutrisi, keamanan dan penerimaan konsumen pada produk hasil pengasapan.

Senyawa yang bersifat karsinogenik adalah benzo[a]pyrene dan turunannya yang termasuk golongan polisiklik aromatic hidrokarbon (PAH). Konsentrasi benzo[a]pyrene meningkat secara linier dengan meningkatnya suhu pembentukan asap dari 400 – 10000C. Senyawa tersebut terjadi pada pengasapan tradisional yaitu asap aerosol mengenai permukaan bahan makanan (Anggraeni, 1998).

Pengasapan secara tradisional sulit untuk dikontrol, konsentrasi konstituen asap, waktu yang optimal dan suhu pengasapan tidak dapat dipertahankan sama.oleh karena produk hasil pengasapan tidak segaram, sehingga perlu teknologi pengasapan lain yaitu asap cair yang dapat memberikan produk yang lebih aman dan seragam.

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/contoh-teks-editorial-jenis-dan-isi-serta-unsur-kebahasaan/