Apa pandangan politik Bapak pada waktu itu

Apa pandangan politik Bapak pada waktu itu

Apa pandangan politik Bapak pada waktu itu

 Apa pandangan politik Bapak pada waktu itu
Apa pandangan politik Bapak pada waktu itu

Jadi saya itu orangnya hanya sekali ikut pemilu, yaitu ketika PPP baru ikut. Kalau tidak salah tahun 1971 atau tahun berapa, apa 1977. Waktu itu sebagai orang yang cukup muda, saya 29 tahun. Waktu itu kan ada orang NU, orang Muhammadiyah, segala eksponen itu masuk ke dalam PPP. Partai benar itu. Tapi setelah itu saya kecewa dan Golput sampai sekarang. Jadi kalau saya memilih misalnya orang legislatif itu karena orangnya bukan partainya.

18. Apakah Bapak dilahirkan si keluarga pesantren?
Jadi begini, keluarga saya itu punya pesantren, tapi pesantren kecil. Saya lahir di situ. Ketika lahir, ya saya sudah mendengar orang mengaji. Tapi saya sendiri malah masuk SMP. Dulu itu didaftarkan PGA tapi setelah didaftarkan Bapak, Bpak pulang dan saya lari ke SMP. SMP-nya itu di kota. Untuk beberapa bulan, Bapak tetap mengira saya sekolah di PGA, padahal saya sekolah di SMP.
Jadi pengetahuan atau pengalaman keagamaan saya memang betul-betul benar namun tidak secara formal, karena yaitu saya cuma ikut ngaji. Mendengar orang mengaji hampir 24 jam. Kemudian karena Bapak saya tokoh NU, jadi mengadakan pengajian-pengajian lalu mendatangkan tokoh-tokoh. Waktu saya kelas satu SMP, bapak saya mendatangkan Fuad Hasyim, dan satu lagi dari Blitar. Itu terkenal itu siapa. Jadi saya belajar sambil lalu. Baru kemudian setelah dewasa baca buku-buku agama yang kitab putih bukan kitab kuning. Bergaul dengan orang-orang nyentrik, ya Cak Nur, Gus Dur, Cak Nun. Jadi pikiran saya berkembang di sana.

19. Jadi Bapak dekat dengan Cak Nur dan Gus Dur?
Ini semuanya. Ini saya dengan Gus Dur terakhir kali. Ini Gus Dur dua bulan sebelum meninggal. Ini di rumah Gus Dur (sambil memperlihatkan foto). Ini saya. Ini rombongan saya. Ini, senang tidur di sini Gus Dur itu.

20. Menurut Bapak, apa yang Bapak kagumi dengan sosok dan pemikiran Gus Dur?
Dia manusia yang sesungguhnya. Saya kira manusia yang sesungguhnya ya manusia seperti Gus Dur. Memberi kecintaan pada siapapun, melindungi siapapun, membantu siapapun dan tidak pernah merasa lebih tinggi dari siapapun. Jadi Gus Dur itu kepada siapapun akrab. Jadi beginilah, manusia ini hebat sekali.

21. Kalau pandangan tentang Cak Nur atau Cak Nun?
Boleh dua-duanya, Cak Nur saya kenal, Cak Nun saya kenal. Sebetulnya sama, satu aliran cuma warnanya tentu berbeda karena setiap manusia kan satu lingkup. Satau individu sendiri. Semuanya adalah manusia-manusia yang sangat menghormati orang lain. Hanya memuliakan Tuhan. Tidak memuliakan apapun termasuk dirinya sendiri dan sangat mencita-citakan kehidupan yang harmonis, demokratis, dan memberi hak kepada siapapun untuk mengaktualisasikan diri, seperti itulah orang-orang yang cerdas. Cuma warnanya memang beda.

22. Bapak selain sastrawan juga sekaligus budayawan. Siapa tokoh yang mempunyai pandangan visi dan misi yang sama dengan Bapak?
Ya sekarang ini saya merasa ya misalnya Muhammad Syafari. Dulu Rama mangun, sekarang rama-rama banyak sekali yang kenal dengan saya. Satu aliran dalam artian ingin memuliakan manusia. Kalau sudah begitu, saya tidak pandang agama.

23. Bagaimana dengan Kuntowijoyo atau Umar kayam?
O… iya, itu saya sering ketemu. Kuntowijoyo atau Umar kayam dalam satu sisi sama dengan saya, yaitu ingin mengubah kepriayian. Kepriayian itu mengandaikan ada satu lapis seseorang yang derajatnya lebih tinggi daripada orang lain. Itu saya tidak setuju. Gini. Ini pemikiran budaya yang sangat mendasar. Ada kalimat dalam Bahasa Indonesia berbunyi “Mbok Sarikem pergi ke sawah berpas-pasan dengan Ibu Camat yang hendak pergi ke kota”. Jika diucapkan dalam bahasa Jawa yang benar, maka begini “Mbok Sarikem kesah dateng sabin papagan kalian Ibu Camat ingkang badhe tindak kitha”. Selain itu salah. Jadi Mbok Sarikem kesah, Ibu Camat tindak. Itu sudah standar bahasa jawa, kalau tidak begitu, salah. Mengapa mbok Sarikem “kesah”? Karena dia petani. Mengapa Ibu Camat “tindak”? Karena perginya ke kota. Jadi priayi. Perlukah dipertahankan pola bahasa seperti ini?
Bab pemikiran budaya seperti itu kewajiban saya serta anda-anda itu. Saya sangat mengkritisi kebudayaan Jawa yang serta merta dikatakan Adiluhung. Nanti dululah, apanya yang adiluhung. Saya juga Jawa kok, walaupun pingiran. Sama jawanya dengan mereka yang lahir dalam beteng. Jadi hak saya sama.
Jadi Umar kayam dengan Para Priyayi dan Si bawuk, itu kan sebenarnya agak sinis. Dia kan orang Jawa pinggiran, Ngawi. Yang lebih vulgar malah Rendra. Rendra lahir dari penari keraton Surakarta. Waduh, kritiknya terhadap Jawa habis-habisan. Rama Mangun juga. Kalau Rama Mangun orang Ambarawa.
Itu, jadi itu kesamaan dengan mereka. Jadi banyak para budayawan Jawa karena tanggung jawabnya ingin membangun kembali/membangun yang baru dan meninggalkan yang lama.
“Sarikem kesah, Ibu Camat tindak”, lho itu gimana? Untuk negara demokrasi nggak boleh ada seperti itu. Apalagi kalau dipikir secara sosiologis. Bu Camat kan hidup dari APBD. Jadi, dia hidup dari uang rakyat kan? Lha rakyat dengan kerja dengan keringatnya sendiri. Apalagi yang namanya petani atau wong cilik itu hampir selalu memberi subsidi kepada yang di atasnya. Produksi pertanian selalu berlimpah. Milik petani ditukar murah dalam industri. Buruh diberi upah lebih murah dari aslinya.
Ada gula kelapa, sekarang harganya enam ribu. Mereka itu menjual kepada tengkulak itu tidak punya nilai atau daya tukar sedikitpun. Jadi yang menentukan harga gula itu pembelinya atau tengkulak. Petaninya yang bertaruh nyawa: ini saya jual gula, dia timbang. Ooo ini kelas tiga.
Tapi sekarang ada krisis kesastraan di mana karya sastra ini lebih didominasi sastra yang berwarna individualisme, kisah-kisah pribadi, perseorangan, dominan betul, kalau zaman saya itu justru diwalik, yang dominan itu karya-karya yang bertema sosial.

24. Apakah latar pendidikan yang berganti-ganti turut ikut andil dalam proses kreatif karya-karya Bapak?
Benar. Itu jelas ada pengaruhnya. Jadi saya begini, saya ini kan lahir dari keluarga pesantren. Jadi ada latar belakang agama. Kemudian masuk SMP. SMA bagian B, bagian eksakta. Biologi. Jadi warna biologi dalam novel saya itu cukup banyak. Kemudian juga pernah masuk Sosial Politik, jadi buku-buku elementeri tentang politik saya baca. Pernah juga masuk bagian ekonomi. Jadi teks-teks elementeri tentang ekonomi saya baca. Tapi sebetulnya lebih dari itu begini, mengapa saya jadi pengarang karena saya tidak bercita-cita. Cita-cita saya adalah dokter kok. Sebetulnya lebih karena suatu situasi yang kebetulan. Kebetulan kok saya berbakat, berhobi membaca. Itu belum sekolah. Jadi belum masuk SD saya sudah bisa membaca. Bapak saya itu juga orang yang luar biasa. Bapak saya itu orang yang tamat SD lima tahun ketika zaman Belanda. Ketika merdeka, menjadi pegawai KUA, sekaligus menjadi tokoh partai NU. Bapak saya itu langganan koran NU yang namanya Duta Masyarakat sejak tahun 1953. Gila! Itu kan lompatan luar bisa. Tahun 1953 sampai sekarang 2010. Berarti 57 tahun kan itu? Sekarang saja tidak ada sepuluh orang yang berlangganan koran di sini. Dari situ saya sudah berkenalan dengan aksara. Jadi mulai terlitera, sampai saat ini. Jadi kalau bapak pulang itu yang saya tunggu korannya. Korannya itu terlambat seminggu karena lewat Pos. Jadi kalau terbit tanggal satu, datang di sini tanggal tujuh.
Mulai kemudian karena suka membaca, ketika SD itu saya bisa berkenalan dengan cara meminjam komik-komik Mahabarata. Dulu itu 48 jilid. Tamat saya baca. Dan itu Ramayana 36 jilid saya baca. Dan itu Mahabarata dan Ramayana yang benar dari kitabnya R.A. Kosasih. Saya tamat sudah. Bayangkan itu sudah kayak apa, sudah isi apa otak saya itu masih SD padahal itu. Tambah-tambah ketika saya SMP kan ke Kota Purwokerto, di SMP negeri 1 itu. SMP sisa zaman Belanda. Saya masih menemukan beberapa novel klasik seperti Salah Asuhan, Azab dan Sengsara, masih dapat dilihat di perpustakaan lalu dapat ditambah lagi berkenalan dengan guru, sebenarnya dia guru gambar. Dia tidak menikah tapi suka sastra. Rumahnya kelewatan kalau pulang sekolah. Jadinya sering mampir. Jadi saya SMP itu saya kira semua novel klasik sudah saya baca: Keluarga Gerilya, Dari Avemaria ke Jalan lainnya, semua tak baca di rumah orang itu. Pak Guru. PKI. Dan meletus tahun 1965, saya sudah SMA. Dia hilang. Jasanya besar sekali pada saya. Dari situ juga saya baca sastra kiri: Pramudya, Sitor Situmorang, terjemahan sastra-sastra kiri dari Amerika Latin saya baca di situ. Itu SMP, bayangkan! Sudah puluhan novel saya baca. Dulu mungkin ratusan. Tapi saya tetap kepengen jadi dokter. SMA saya mulai membaca buku-buku terjemahan, ya sastra umumya, buku-buku populer, dari buku-buku psikologi, ekonomi, sejarah, saya baca. Ketika menulis RDP maupun yang lainnya, kelihatan itu kan. Resensinya kelihatan walaupun tidak disebutkan sumbernya. Kelihatan jejaknya. Jadi saya sebetulnya diajari menjadi pengarang oleh ratusan orang yang bukunya saya baca itu. Berdiri secara tidak langsung. Kan gini, tadinya kenapa saya itu mulai intensif mengarang.
Saya masuk fakultas kedokteran tahun 1870. Terpaksa DO (Drop Out), karena ekonomi tidak mendukung. Adik saya ada delapan. Jadi tidak mungkin, ego ya? Okelah saya berhenti. Saat itu saya mulai kebingungan mau apa. Jadi sesudah di DO dari fakultas kedokteran baru mau nulis dan bisa segera terbit tahun 1971.

25. Di dalam RDP maupun OOP, Bapak selalu menceritakan tentang wayang, bagaimana hubungannya dengan pengalaman?
Saya menguasai wayang karena saya tadi membaca komik Ramayana dan Mahabarata. Secara fisik saya sering nonton wayang. Jadi Si Rasus kan ketika berperang, Rasus kan di Kalimantan Barat melawan Paraku. Paraku itu tentara komunis Kalimantan, tapi itu disersi-disersi dari tentara kita. Jadi ketika ia menembak musuh, ternyata malah itu orang Banyumas. Ketika saya bisa menembak saya merasa: prajurit Amarta yang mau membela negaranya, tapi yang saya bunuh orang Banyumas juga itu. Jadi mulai bingung juga saya ini. Dengan konsep Gatot Kacanya. Maksudnya begitu di RDP. Akhirnya dia bilang: ah kalau begitu saya memang orang yang tidak berbakat jadi tentara karena terlalu lemah, terlalu berbelaskasihan sama orang.
Ketika di OOP ada wayang yang dibutuhkan politisasi cuma wayang yang ketika itu ada lakon Semar Kembar Tiga (yang dimaksud narasumber adalah Gatotkaca Kembar Tiga—red). Ada yang berbaju merah itu PDI, yang hijau PPP, yang benar itu Semar yang berbaju kuning, tentu saja Golkar.

26. Latar OOP ada di sekitar Sungai Cibawor, apakah memang ada Sungai Cibawor itu?
Tidak ada. Tapi itu menunjukkan wilayah Banyumas karena Bawor itu bisa dikatakan lambang Banyumas. Jadi itu hanya untuk menunjukkan bahwa setting yang dimaksud adalah di Banyumas.

27. Bagaimana kalau latar RDP?
Iya Eling-eling Banyumas. Eling-eling kan lagu yang terkenal (di Banyumas—red).

28. Kalau latar Dawuan, itu bagaimana?
Kalau Dawuan itu nama umum, di mana-mana ada nama Dawuan. Ya sebenarnya begini Mas, dalam ide saya itu, RDP itu memang ada lokasinya. Lokasi yang menjadi acuan, walaupun tidak sepenuhnya sama. Itu daerahnya, ada suatu wilayah yang disebut, namanya Pekuncen. Pekuncen itu maksudnya adalah tempat juru kunci karena di sana ada makam. Makam Banatuling karena makam itu sangat dihormati. Banatuling itu tokoh lokal yang sangat dihormati. Orang-orang itu kan masih berbeda dengan yang lain. Islam ya Islam, tapi masih ada kejawennya. Sekarang masih ada, walaupun mulai tererosi juga, karena banyak pemudanya yang keluar, ke Jakarta. Lama-lama ya akan hilang. Nah itu, kalau dari Pekuncen mau ke Pasar Jatilawang akan melewati gang panjang. Jadi seperti Dukuh Paruk. Mau keluar ke Dawuan itu kan mulai gang panjang. Tetapi ya sekarang sulit karena itu kan pelukisan tahun 1960-an di mana waktu itu di Pekuncen itu boleh dibilang tidak ada rumah yang beratap genteng. Semuanya beratap ilalang. Rumah saya pada tahun 1950 masih ilalang kok. Kalau sekarang dilacak kembali, sulit. Kecuali fisik makamnya tidak banyak berubah sama sekali karena di sana orang tidak berani menebang pohonnya, bahkan tidak berani membakar kayunya. Kalau ada ranting kering itu tidak berani dibakar.

29. Bagaimana pandangan Bapak tentang kearifan lokal?
Ya jadi itu dalam pengajian-pengajian itu saya sering mendengar bahwa yang namanya Nabi atau utusan itu kan ribuan. Ada yang mengatakan 24 ribu, tetapi yang wajib diketahui oleh orang Islam hanya 25. Juga ada satu ayat yang mengatakan setiap tahun pernah diberi satu utusan yang memberi jalan kebenaran. Kalau setiap tahun, tentu saja pengertian kita kaum Jawa pun pernah. Makanya tidak heran jika di Jawa pun ada keraifan-kearifan tentang kekuasaan tuhan bahwa adanya Sang Pencipta, adanya hukum-hukum yang teratur di alam, di dunia ini sudah pernah Tuhan memberikan orang untuk memberi tahu kepada manusia. Juga memberikan dan mengajarkan hukum-hukum. Misalnya hukum-hukum untuk hidup bersama. Hukum-hukum untuk menghormati air, hukum untuk membela kebenaran, karena paradigma kebenaran sudah diberikan ketika agama besar itu ada. Maka saya sangat menghargai kehidupan kearifan lokal yang menurut keyakinan saya dari Tuhan kita juga. Yang dulu disampaikan dengan syariat yang belum seperti kita sekarang. Maka orang Jawa di mana pun pasti menghargai kebersamaan menghargai kebenaran. Mesti selalu kesalahan selalu ditolak.
Sebenarnya tidak ada kelokalan yang terpisah dari keuniversalan. Kearifan lokal itu sebetulnya pun bagian dari kearifan universal. Pasti iya. Dengan syariat-syariat yang lokal sebenarnya kita orang Jawa tidak dibenarkan oleh tradisi untuk memotong pohon lebih dari satu kali setahun. Harus ganti tahun lagi, baru boleh, yaitu pada masa-masa tua.
Dulu, menjala ikan itu pada hari Senin dan Kamis. Lainnya tidak boleh. Itu kan kearifan lokal. Ternyata sekarang ternyata kebenarannya. Sekarang kan sudah over fish/ terlalu banyak ikan yang dijaring, di laut maupun di sungai. Stok sudah sangat berkurang karena kita sudah meninggalkan kelokalan tersebut. Agama Islam tidak berkata seperti itu to? Tapi apakah yang lokal itu salah? Buruk? Ya, tidaklah. Memang di dalam agama itu tidak ada istilah: kamu di larang menjala ikan selain hari ini tau itu. Tapi kita bisa mengatur sendiri kearifan itu.

30. Akan tetapi, bagaimana jika hal-hal tersebut dihubungkan dengan mitos-mitos yang syirik?
Iya, saya juga suka menentang orang-orang seperti itu. Brengsek! Merasa sok yang paling benar. Kamu tahu musuhnya syirik itu apa yang paling utama? (diri sendiri). Iya, jadi bukan masalah keris atau apa seperti itu. Jadi ketika kita merasa menjadi objek yang mulia. Kamu kalau berhadapan dengan gelandangan merasa lebih mulia kan? Itu salah. Itu syirik. Kamu sudah mempertuhankan dirimu sendiri. Kembali ke Gus Dur. Gus Dur adalah seorang yang sangat menjaga syahadatnya. Syahadat kan kesaksian “Tiada Tuhan selain Illah”” kompensasinya apa sih? Konsekuensi yang tepat adalah tunjukkan kamu tidak meng”ïllahi”kan dirimu sendiri. Bukan kamu mempertuhankan berhala. Iya, tapi itu nomor kesekian. Pertama adalah apa kamu mempertuhankan dirimu sendiri? Tidak. Nah, kemarin ketika Gus Dur meninggal, saya menulis di Jawa Pos Jawa Timur. Gus Dur datang di sini, tidur di karpet. Padahal tahun 1995 posisinya ketua umum PBNU. Karpet saya kan karpet murahan yang tidak pernah disedot. Kemudian kenapa bisa begitu? Saya menafsirkan tindakan Gus Dur itu sebagai tindakan orang yang menjaga syahadatnya, yakni tidak menganggap dirinya mulia, karena hanya Tuhan yang tahu. Saya pikir ke belakang itu ya Kanjeng Nabi suka tidur di lantai rumahnya yang berlantai tanah, hanya beralaskan tikar daun kurma. Hingga ketika bangun tidur ngecap itu lidi-lidinya. Hal itu ditangisi oleh sahabat-sahabatnya. Nabi adalah orang yang paling menjaga syahadatnya. Tidak akan menghendaki kemuliaannya.
Masih ada satu lagi. Pernah mendengar kisah Umar bin Khattab? Umar Bin Khattab itu sudah Amirul mukminin, lalu dilapori itu di sana ada janda sedang kelaparan sampai-sampai dia merebus batu agar anaknya diam. Ketika dilapori begitu, Umar Bin Khattab berangkat sendiri mengantarkan bantuan untuk janda. Kenapa? Tafsiran saya seperti itu, karena Umar menjaga syahadatnya sehingga tidak berani merasa lebih mulia dari seorang janda yang kelaparan. Syahadat membuat seseorang itu merasa tidak mulia. Merasa sama dengan orang lain. Tapi tidak boleh merasa lebih rendah. Hati-hati. Tidak boleh.

Baca Juga :